Karena Bu Risma

serem, merinding, sekaligus bersyukur dan berusaha untuk tetap di jalan-Nya..

Islam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

View original post 4,588 more words

Bersih Sampah Visual

Diantara segala keriuhan pemilu yang kurang dari 2 bulan lagi itu—mulai dari caleg yang berlomba-lomba memanfaatkan bencana sebagai momen perkenalan kepada para konstituennya, Angel Lelga yang kikuk menjawab pertanyaan Najwa Shihab, kampanye (terselubung?) taipan media slash capres berbulan-bulan sebelum 9 April nanti yang dianggapnya bukan kampanye, dan lainnya yang memenuhi ruang dengar dan ruang pandang kita beberapa bulan ini—saia lebih memilih yang ini:

Image

bersih sampah visual!

Foto tersebut diambil di jalan yang hampir setiap hari saia lewati menuju kantor, di Padukuhan Pikgondang, Sleman, Yogyakarta. Tepatnya Jl. Pandega Sakti terus ke arah timur.

Apakah ini pertanda kegolputan?

Saia tidak melihatnya demikian. Alih-alih, saia melihatnya sebagai suatu bentuk kesadaran dan protes (sebagian kecil) masyarakat yang bosan melihat bertebarannya sampah-sampah visual yang memajang foto orang-orang yang umumnya sama sekali tidak dikenal sebelumnya, kemudian mak bedunduk meminta perhatian kita untuk dipilih saat pemilu nanti.

Tentu kita berhak menjaga mata kita dari apa yang tidak ingin kita lihat, kan?

sky.fm, Radio Minim Iklan

Sambil menerjemahkan di kantor, saia paling suka dengar streaming radio. Bukan sembarang radio, tapi ini sky.fm. Mungkin udah banyak yang tau radio ini, tapi saia sendiri baru jadi pendengar setianya sekira sebulan belakangan ini.

tampilan Home sky.fm

tampilan Home sky.fm

Kenapa sky.fm bukan sembarang radio? Mengapa sky.fm berbeda?

Saia tidak tahu apakah ada streaming radio lainnya semacam ini, yang:

1. Terdiri dari beragam channel yang dikelompokkan sebagian besar berdasarkan genre (bahkan subgenre), dan sebagian kecil berdasarkan tahun kemunculan dan negara asal lagu.

Ada channel khusus yang memutar lagu pop, jazz, lagu2 jadul mulai tahun 1960-an, hingga lagu Bollywood dan Israel! Entah apakah radio ini anti-Palestina atau gimana https://i2.wp.com/emoticoner.com/files/emoticons/smiley_faces/boxed2-smiley-face.gif

Dan channel-channel ini bisa difavoritkan lho! *Emang apa gunanya?* Begini, setiap channel yang difavoritkan akan ditandai bintang dan dikelompokkan di sebelah kiri daftar channel. Jadi memudahkan kita untuk mendengar channel yang kita mau.

Tapi, harus sign up dulu untuk bisa memfavoritkan channel. Manfaat sign up lainnya adalah bisa nge-like (gak ada hubungannya sama Facebook, sih..) suatu lagu. Kurang tau juga apa manfaat nge-like lagu. Kesoktauan saia sih berkata, mungkin dari sky.fm-nya ada bikin semacam statistik tentang lagu apa yang populer dan banyak disukai.

channel favorit (bertanda bintang) yang dikelompokkan di sebelah kini

channel favorit (bertanda bintang) yang dikelompokkan di sebelah kini

2. Minim iklan. Sejauh ini saia hanya mendengar tiga iklan di sana: iklan tentang sky.fm itu sendiri, tentang lowongan pekerjaan di sky.fm, dan musisi jazz yang mempromosikan channel Smooth Jazz 24/7. Kurang merhatiin juga sih kalo di channel lain gimana, tapi 2 iklan pertama tadi sepertinya memang iklan wajib untuk semua channel.

Tentang minim iklan ini, saia jadi menduga-duga, bahwa mereka memperoleh pendapatannya dari mereka yang berlangganan sky.fm versi premium yang sama sekali tak ada iklan, dan dari iklan di aplikasi mobile-nya. Biaya berlangganan tentu dengan dolar AS, yaitu 4.99$ per bulan dan 49$ per tahun. Dirupiahin jelas mahal, mungkin kalo hitungan Amrik murah https://i0.wp.com/emoticoner.com/files/emoticons/smiley_faces/afro-smiley-face.gif

3. Minim suara penyiar juga. Serius, jadi yang kita dengar hanya lagu dan iklan yang sedikit itu. Kecuali di Smooth Jazz 24/7, memang ada penyiarnya, tapi dia pun tak banyak cakap yang tak penting. Paling2 hanya memperkenalkan lagu yang akan diputarnya.

Satu channel yang worth mentioning menurut saia adalah Movie Soundtrack. No no no, jangan berharap akan mendengar My Heart Will Go On dari Titanic, Accidentally in Love dari Shrek, atau soundtrack-soundtrack terbaru lainnya *maklum saia produk lama, upgrade-nya lambat heheee * Channel ini menurut saia lebih tepat dinamai Movie Score, karena berisi lagu-lagu latar belakang pengiring adegan film.

Pernah perhatikan score Harry Potter yang ada unsur dentingan piano yang sounds magical itu? *ok, agak lebay* Mendengarnya membuat saia membayangkan mau masuk kastil Hogwarts, hehe… maklum, saia ini orangnya tipe visual, jadi rasanya lebih mantap kalo ada visualisasi bekerja di otak saia. Makanya saia menikmati banget lagu-lagu di channel ini. Kalo pun gak bervisualisasi, saia iseng aja menebak-nebak lagu ini ada di adegan apa.

Atau adegan Jack Sparrow dan kawan-kawannya yang berada dalam kurungan bundar besar dan dikejar-kejar penduduk pulau tempat mereka ditahan, dari film Pirates of the Carribbean: Dead Man’s Chest, yang didukung dengan score yang ok banget  Score yang paling saia tunggu adalah dari Despicable Me 2, membayangkan di tengah-tengah lagu ada yang berseru, “El Macho!” hehe

salah satu score Pirates of the Carribbean

salah satu score Pirates of the Carribbean

Satu hal menarik saia pelajari dari channel ini. Ternyata, seburuk apa pun penilaian suatu film, ternyata score-nya bagus-bagus, setidaknya menurut saia yang hanya bisa menikmati ini 

So, find your favorite channel now! 

Damailah di Dumay

Saia pernah terlibat perselisihan dengan segelintir teman, yang semuanya terjadi tanpa tatap muka alias di dumay: melalui sms & media sosial.

image

Karena bertengkar di dumay itu sungguh gak keren — bukan berarti juga saia lanjut bertengkar di dunia nyata yaa — saia memutuskan untuk mengalah, ya dengan menanggung risiko ‘gondok’ karena saia merasa didholimi. (Atau mungkin hanya kelebaian saia aja ngerasa kayak gitu? Entahlah, hehe…).
Meskipun berselisih, ada satu hal yang bisa saia syukuri dari sana. Saia bersyukur saia masih berada dalam friend list mereka, terutama di Facebook (karena bagaimana pun juga FB adalah media sosial yang lebih populer ketimbang Twitter, Instagram, dll.).
Saia bersyukur, bahwa perselisihan itu gak parah-parah amat, bahwa kata-kata pedas yang dulu terlontar sekarang mungkin jadi kata-kata manis atau bahkan terlupakan & gak berarti, bahwa perselisihan itu sudah jadi perdamaian, semoga…
Dan yang mungkin terpenting, saia bersyukur masih bisa ngepoin mereka, muaahhahhaaaa *tertawa lebar* #apasih #abaikan. Kemungkinan itu tentu tertutup kalo saia udah gak lagi ada di friend list mereka.
Ada seorang teman yang baru aja menutup kemungkinan itu buat saia, karena saia di-unfriend olehnya. Awalnya saia agak shock, “wow, dia bener2-bener segitunya ya..”. Tapi ya sudahlah… Mungkin perbedaan ‘frekuensi’ antara saia dengannya udah gak bisa ditolerir, mau apa lagi?

Gambar pinjam dari: bit.ly/KnG6ej

Posted from WordPress for Android

Menanti di Pasar Tradisional

Tidak seperti kebanyakan anak perempuan yang jika mengantar ibunya ke pasar biasanya akan ikut turun & berbelanja menemani sang ibu, saia lebih sering nunggu aja di atas motor, nongkrong begitu aja….
Bukannya saia gak suka pasar tradisional. Yaaa meskipun aromanya bikin harus tahan napas atau tutup hidung barang sejenak 😀
Saia sih seneng2 aja belanja bejubelan di pasar. Yang bikin saia lebih sering nunggu di parkiran adalah, ibu saia rupanya tipe orang yang solo-shopper (as if there’s such term hehe..). Beliau lebih suka dan lebih nyaman belanja sendirian.
Padahal kalaulah saia ikut berbelanja, saia gak berisik. Maksudnya, gak rewel macam anak kecil yang kadang minta jajanan, atau minta pulang.Kalaulah saia ikut berbelanja, saia bisa membawakan belanjaan ibu.
Mungkin yang jadi masalah adalah, saia kurang bisa memberikan saran yang baik tentang apa yang mestinya dibeli oleh ibu saia. Saat ditanya, “Tuku opo maneh Fi?” (Jawa: beli apa lagi, Fi?) atau “Masak opo yo?” (masak apa ya?), saia lebih sering jawab “Terserah.” Maksudnya biar Ibu saia lebih bebas menentukan pilihan  gitu….
Yah… Ternyata Hampir tiap hari ke pasar juga bisa bingung mau belanja apa…
Tapi semata-mata nunggu di parkiran juga bukan tanpa risiko. Ibu saia bener2 menikmati belanja sendirian sampe saia kadang bosen nunggu di parkiran, hehe 😀 atau mungkin itu tadi ya, saking bingungnya mau belanja apa hihi 😉

*ditulis sambil nunggu Ibu saia merampungkan segala transaksinya di pasar*

Posted from WordPress for Android

“Maaf, Aku Merindukanmu.”

“Maaf, aku merindukanmu.”

Tertanda, Terima Kasih, yang sedang sekarat.

Pesan pendek tersebut hendak dikirimkan Terima Kasih kepada Maaf, kekasihnya. Terima Kasih dan Maaf tidak memiliki ponsel, karena mereka tak ingin seperti beberapa manusia yang mulai mengacaukan makna Maaf dan Terima Kasih sejak keberadaan dan kemelesatan ponsel, dunia maya, media sosial, yang sulit mereka pahami.

Mereka hanyalah sepasang kata yang hidup di dunia manusia, yang hanya dapat bertemu dan menghabiskan waktu selama mungkin sesuka mereka jika manusia tak mengikis makna atau bahkan melupakan mereka. Hanya serendah itulah daya hidup mereka. Serendah kemampuan Terima Kasih untuk menyampaikan kerinduannya pada Maaf. Jika seseorang mengucapkan Maaf, bukan hanya Maaf yang akan berenergi, melainkan juga Terima Kasih, dan semakin besar pula kesempatan mereka untuk bertemu.

Entah dengan apa kerinduan Terima Kasih pada akhirnya akan tersampaikan. Angin? Hujan? Sinar Matahari? Terima Kasih juga enggan untuk berharap pada manusia. Ia tahu, bagi beberapa manusia, yang terpenting adalah memperbarui status dan foto di media sosial. Manusia enggan untuk meluangkan sedikit saja waktu dan pulsanya untuk menyampaikan hanya empat huruf dari kata Maaf jika seseorang melukai orang lain.

Terima Kasih juga semakin jarang mendapatkan energinya kembali. Beberapa manusia merasa, dengan kelebihan yang dimilikinya, mereka pantas menerima apa yang menurut mereka adalah haknya, dan enggan mengucap Terima Kasih. Seolah Terima Kasih adalah hal yang tabu. Bagi mereka, yang terpenting adalah mereka mendapatkan haknya. Perkara orang lain mendapat haknya atau tidak, mereka setengah hati memikirkan hal itu. Bahkan seandainya bisa,mereka sama sekali tidak mau memikirkannya.

—————————————————————————————————————————————————-

Image

gak ada kata yg lebih tepat (pinjam dari sini)

Fiksi sederhana (baca: maksa) di atas sebenarnya terinspirasi sepenuhnya dari apa yang belum lama saia alami, alias saia ‘hanya’ curcol semata, hehe 😀 Jadi, saia baru saja melunasi kewajiban saia pada seseorang, dan alhamdulillah saia pun sudah mendapat hak yang dijanjikan pada saia sebelumnya. Semestinya ini sudah cukup, atau mungkin saianya saja yang kurang bersyukur dan terlalu banyak menuntut. Karena, sempat terjadi situasi yang agak alot sebelum akhirnya saia mendapatkan hak saia. Situasi yang kurang lebih tercerminkan dari fiksi singkat di atas. Situasi yang membuat saia merasa saia layak mendapat kata ‘maaf’, kata yang sebenarnya sangat pendek, yang mungkin hanya seperseribu pendeknya dari sekali tarikan napas kita *ok, perhitungan ngasal* *tapi bener kan? 😉 * Tapi ternyata tidak. Mungkin angka-angka di rekening sudah ditugasi untuk mewakili kata ‘maaf’ tersebut.

Kenapa saia ‘iseng’ memasangkan ‘maaf’ dengan ‘terima kasih’? Karena saia pun tak mendengar atau membaca kata itu tersampaikan pada saia saat kewajiban sudah saia selesaikan. Saia bolakbalik positive thinking, yang perlahan menjadi sedikit negative thinking saat mendapati ada yang berubah di salah satu akun sang pemberi kerja di media sosial. Mungkin saya yang nyata memang kurang penting baginya dibandingkan yang maya. Mungkin memang ada yang salah dalam interaksi saia dengannya.

it should be beyond words, right? (ketemu di http://bit.ly/1gDHIPn)

it should be beyond words, right? (ketemu di sini)

Saia bukannya tidak berterima kasih padanya dan bukannya tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat ini, tapi saia gak tahan untuk gak mikir, “Serius nih, gak ada maaf, gak ada terima kasih? What are you made of? Kamu terbuat dari apa sih sebenernya?”