JTJ Trip on March: Gunung Api Purba Nglanggeran & Candi Abang

Perjalanan terkini Jilbab Traveler Jogja melabuhkan tujuannya ke dua tempat sekaligus: Gunung Api Purba Nglanggeran (GAP) & Candi Abang (CA). Maksud mbolang kali ini sebenarnya ingin melunasi keingintahuan kami—atau lebih tepatnya, saia—pada tempat yang dinamai Candi Abang tersebut. Rencana mengunjungi tempat ini sebenarnya sudah lama disiapkan, namun hal-hal di luar kuasa kami *halah* menyebabkan rencana tersebut baru terlaksana Minggu, 24 Maret 2013 kemarin.

Hasil konsultasi dengan mbah Google menunjukkan gambar-gambar CA yang sama sekali tidak seperti candi pada umumnya, yaitu berupa batu hitam/abu-abu (andesit) yang disusun sedemikian rupa dengan pola yang biasanya menjulang ke atas. CA ‘hanya’ berupa gundukan atau bukit kecil yang sudah diselimuti rumput, sehingga tak heran ada yang menyebutnya mirip rumah teletubbies. Rumput di gundukan tersebut tumbuh di atas tanah merah. Rupa-rupanya inilah asal mula nama CA. Konon, CA dulu memang sebenarnya candi, namun terbuat dari batu bata merah, yang lebih mudah hancur dibandingkan batu andesit. Boleh percaya, boleh tidak dengan ‘konon’ ini. Saia sendiri cukup mempercayainya. Mengapa? CA terletak di dataran yang cukup tinggi. Jadi, bisa dibayangkan, ada gundukan kecil di atas dataran tinggi. Apalagi kalau dikaitkan dengan fungsi candi yang pada umumnya untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Saia rasa ‘konon’ itu cukup masuk akal.

Di-pause dulu ya cerita saia tentang CA, mengingat tempat pertama yang kami kunjungi waktu itu adalah GAP. Nanti lanjut lagi tentang CA-nya..

Gunung Api Purba Nglanggeran 

GAP terletak di Gunung Kidul (GK). Saat saia bilang Gunung Kidul, biasanya identik dengan medan perjalanan yang berkelok-kelok dan naik turun. Memang benar, sih. Tapi untungnya GAP bisa dibilang terletak di ‘mulut’ GK, jadi kita tidak akan terlalu banyak merasakan perjalanan yang penuh tantangan. Beda kalau misalnya tujuan kita adalah pantai-pantai cantik di ujung GK. Tapi tetap ya, kondisi kendaraan dan fisik yang prima, serta perhitungan yang pas kapan harus mengegas, mengerem, dan ganti gigi, harus tetap diutamakan. Alhamdulillah tunggangan saia motor matic, jadi tinggal gas dan rem saja perhatian utama saia 🙂

Dari Jl. Wonosari, kita akan langsung menemui jalan menanjak dan berkelok setelah jembatan di dekat lampu merah Piyungan. Medan seperti ini akan kita lalui kurang lebih selama 10-20 menit (kalau soal jarak saia kurang paham hehe..), tergantung tingkat kepadatan lalu lintas, sebelum sampai di jalan datar pertama di depan kantor polisi. Langsung belok kiri ya di situ. Dua kali ke GAP, seingat saia tidak pernah melihat plang/papan penunjuk GAP di belokan ke kiri tersebut. Semoga saja saia cuma kurang memperhatikan. Dari sini, perjalanan ke GAP lumayan jauh, selama sekitar 20 menit. Ikuti saja jalan aspal utama. Salah satu pemandangan menarik tepat sebelum sampai GAP adalah tiang-tiang pemancar berbagai stasiun televisi nasional. Jadi kalau Anda melewati deretan pemancar ini, insya Allah Anda tidak salah jalan. Lalu belok kanan di pertigaan yang jalannya cukup lebar. Di situ kita dimanjakan dengan pemandangan sawah yang menghampar luas (sawah di kota tidak luas hehe). Jika Anda tersesat, jangan lupa GPS atau Gunakan Penduduk Sekitar 🙂

'introduction' to GAP :)

‘introduction’ to GAP 🙂

Apa sih menariknya GAP ini? Kenapa namanya Gunung Api Purba? (Adapun Nglanggeran adalah desa tempat gunung api ini berada). Soal sejarahnya, Anda bisa mengetahui ceritanya di berbagai situs di internet, salah satunya di sini: http://gunungapipurba.com/. Secara fisik, GAP menarik karena gunung ini tampak ‘hanya’ seperti batu raksasa, bukan gunung. Bayangkan saja ada batu sebesar itu.

tampak GAP dari bawah.

tampak ‘batu raksasa’ GAP dari bawah

pemandangan cantik yang membayar kelelahan :)

pemandangan cantik yang membayar kelelahan 🙂

still another beautiful view from the top

still another beautiful view from the top

GAP sudah dikelola layaknya tempat wisata, dengan tiket masuk (Rp. 3.000,-) dan karcis parkir (Rp. 2.000,- untuk motor). Petunjuk untuk mendaki/trekking juga sudah disediakan, termasuk fasilitas toilet umum dan flying fox (biasanya untuk pengunjung yang berkelompok). Sayangnya saia kok lupa melihat apakah ada fasilitas mushola di sana. Tapi jangan khawatir, tidak jauh dari lokasi wisata GAP (sudah termasuk di luar GAP, sih. Tapi tetap tidak jauh kok) bisa kita temukan mushola & masjid. Bagi Anda yang hendak mendaki gunung semacam Semeru atau lainnya, bisa dibilang mendaki GAP merupakan pemanasannya. Jalur pendakian di sini sudah disediakan. Bahkan berbeda dari kunjungan pertama saia Juli 2012 lalu, di beberapa kini titik sudah dibuat pijakan dari semen, yang mungkin dibuat untuk mencegah pengunjung terpeleset saat melalui jalur yang licin karena tersiram hujan. Fasilitas lain yang mempermudah dan menyamankan pendakian juga sudah ada, seperti pondok/pos/gardu pandang untuk beristirahat, jembatan-jembatan kecil, anak tangga dari kayu, serta tali atau kayu yang dirangkai sedemikian rupa di sisi kanan/kiri jalur pendakian sebagai pegangan tangan pengunjung. Beberapa papan petunjuk juga dibuat seakrab mungkin dengan pengunjung. GAP juga sering digunakan camping. Dalam perjalanan trekking ke puncak GAP, kami sempat berpapasan dengan beberapa rombongan yang pulang camping. Bahkan kami sempat harus berjalan bergantian dengan rombongan tersebut karena melalui jalur sempit yang hanya bisa dilewati satu orang.

hanya muat satu orang

hanya muat satu orang

pijakan semen yg mempermudah pengunjung, tapi tetep aja capek hehe :)

pijakan semen yg mempermudah pengunjung, tapi tetep aja capek hehe 🙂

anak tangga dari kayu

anak tangga dari kayu

kumpulan papan petunjuk 1

kumpulan papan petunjuk 1

kumpulan papan petunjuk 2

kumpulan papan petunjuk 2; yang ‘Puncak, Mas Bro’ cukup membuat kami tertipu krn ternyata masih lumayan jauh 😦

Meskipun hanya ‘pemanasan,’ mendaki GAP juga perlu persiapan, lho. Kenali kondisi tubuh Anda sendiri sebelum mendaki. Tidak ada salahnya Anda melakukan gerakan-gerakan pemanasan seperti sebelum berolahraga, terutama untuk bagian kaki. Pastikan Anda sudah memiliki energi yang cukup untuk mendaki. Jika memang berniat untuk mencapai puncaknya, siapkan juga logistiknya. Bagi Anda yang memiliki penyakit-penyakit tertentu yang kurang memungkinkan untuk melakukan aktivitas fisik yang cukup berat, sebaiknya pertimbangkan kembali niat untuk mendaki. Mendakilah semampu Anda. Tidak ada paksaan kok untuk mencapai puncak GAP. Dan bagi yang telah sampai di bawah kembali setelah mendaki, siap-siap pegel-pegel di kaki yaaa 🙂 Oh ya, kami sempat juga bertemu beberapa orang tua yang membawa serta anak-anaknya mendaki, mungkin karena GAP terhitung jalur pendakian yang mudah bagi anak-anak. Mungkin karena ini juga kami tak menemui raut kelelahan di wajah anak-anak tersebut. Yang ada juga orang tuanya yang menunjukkan raut menyerah, hehe… Tapi tetap ya, anak-anak harus dipandu, karena ada beberapa titik pendakian yang cukup sulit.

alhamdulillah sampai puncak!

alhamdulillah sampai puncak!

Selesai di GAP, lalu sholat dan makan, kami lanjut ke CA. Sudah siang dan disertai dengan nyasar pula perjalanan kami ke sana. Maklum, kami mencari jalan pintas dari GK ke Berbah (Sleman), tempat candi ini berada, dengan hanya mengandalkan ‘GPS’ dan sedikit ingatan informasi dari internet yang dibaca semalam sebelum mbolang ini terlaksana.

Candi Abang

Lanjut cerita tentang CA. Perjalanan ke sini, dari jalan raya (aspal) sampai masuk lumayan rata. Tapi saat benar-benar mendekati CA, jalan menjadi rock ‘n roll, hingga sulit dilalui motor dan harus dititipkan ke rumah warga sekitar. Pilihannya tinggal berjalan kaki, yang sebenarnya menambah lelah saia karena sudah olahraga kaki sebelumnya di GAP. Hasrat untuk jepret-jepret pun menurun, padahal saia penasaran banget sama tempat ini. Jadi mohon maklumnya ya, tidak banyak foto yang saia ambil di sini. Kelelahan ini seolah jadi terasa wajar, karena kami sampai di puncak si bukit kecil ini (akhirnya!) tepat saat adzan ashar berkumandang. Kami pun tak bisa lama-lama di sana karena harus segera pulang sebelum hari makin sore. Alhasil, kami hanya duduk-duduk di situ, menikmati angin sore, menonton beberapa ekor kambing yang digembalakan di sana. Yup, CA memang jadi tempat ngangon kambing oleh warga sekitar. Tapi ada pula pemandangan yang bikin males. CA jadi tempat pasangan pria-wanita entah-ngapain-deh-di-sana >.<

ngadem di si bukit kecil :)

ngadem di si bukit kecil 🙂

banyak yg berkaki empat menemani kami :)

banyak yg berkaki empat menemani kami 🙂

Mungkin karena ‘hanya’ berupa gundukan, tempat ini sama sekali tidak dikelola layaknya tempat wisata. Tidak ada HTM atau apapun. Kalaupun menitipkan motor di rumah penduduk, kita hanya perlu membayar Rp. 1.000,- pada sang empunya rumah. Saia benar-benar gak ngebayangin kalau tujuan mbolang kami cuma ke CA waktu itu, mungkin ‘cuma’ kecewa yang didapat.

Satu hal menarik dari mbolang kali ini adalah, kesepakatan kami untuk menjadikan mbolang kali ini sebagai agenda bulanan. Siapa takut? 😉 Jogja masih memiliki banyak sekali tempat yang belum kami jelajahi. Dan yang lebih menantang lagi adalah, kesepakatan untuk mbolang ke luar Jogja setiap 6 bulan sekali. Hmm… bolehlah kita nabung dulu 🙂 Ada yang mau bergabung? 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s