In Search of Passion

Sabtu lalu, 11 Mei 2013, di siang bolong, sebuah pertanyaan dari seorang teman masuk ke inbox hp saia.

Fi, aku cocoknya kerja di bidang apa ya?

Kebingungannya ini disebabkan karena ia, yang kurang lebih seusia saia, merasa belum menemukan passion-nya pada umurnya yang sudah setua itu.

Saia bingung dan terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Pertama, karena ia memiliki berbagai kelebihan yang tak saia miliki. Kalau mengikuti jalur mainstream, segala kelebihannya itu akan sangat memudahkannya untuk mendapat pekerjaan. Bahkan mungkin nearly any job. Tapi rupanya bukan jalur mainstream yang ingin ditempuhnya. Kedua, karena kami sendiri tidak terlalu dekat, jadi sangat mungkin ada kualitas dan potensi dalam dirinya yang belum saia ketahui. Tapi saia memilih untuk tidak mempermasalahkan hal itu.

Menariknya, sambil memikirkan jawaban untuk pertanyaannya itu, saia sedang menikmati rubrik Rana di Republika, yang memuat seseorang yang berprofesi sebagai manusia patung di Kota Tua, Jakarta. (Rana adalah sebuah rubrik esai foto singkat yang hanya ada tiap Sabtu di Republika). Saya sendiri belum pernah mengunjungi Kota Tua, namun beberapa acara televisi memang pernah meliput orang-orang dengan profesi unik tersebut. Bahkan kini mereka membentuk komunitas manusia patung yang setia mangkal di sana.

Image

Adalah Idris, manusia patung berkostum pejuang, yang diceritakan dalam rubrik tersebut. Senapan, topi pejuang, dan kosmetik berwarna hitam yang dipulaskan di wajahnya, juga menjadi bagian dari kostum yang dikenakannya setiap hari. Eh, kosmetik hitam? Yup, agar serupa dengan patung-patung pahlawan yang ada di berbagai kota. Patung Bung Karno dan Bung Hatta di Tugu Proklamasi, misalnya. Juga patung Jendral Sudirman yang pernah muncul di film Naga Bonar 2 itu.

Image

Tugu Proklamasi

Image

Patung Jendral Sudirman di Dukuh Atas – Jakarta

Saat bekerja, manusia patung ini juga memiliki jam istirahat, layaknya pekerja kantoran. Dalam suatu foto ditunjukkan bagaimana Idris menyantap makan siangnya tanpa menghapus kosmetik hitam yang masih melekat di wajahnya, menyebabkan orang-orang memandanginya mungkin dengan sedikit keheranan.

Ditemani sepeda onthel yang setia mengantarnya pergi-pulang rumah-Kota Tua, serta sejumlah perlengkapan yang tersimpan dalam tas dan kotak cukup besar yang sepertinya dirangkai di sepedanya, Idris setia menjalani profesi yang disebutnya “lahir dari hati” itu, meskipun penghasilannya tak menentu. Saat pulang dengan onthelnya, tampak ada seorang pengendara sepeda motor yang memandanginya penuh tanya. Wajah Idris memang sudah bersih saat pulang, namun mungkin baju serba hitamnya serta senapan yang masih dikalungkan, yang menarik perhatian orang lain.

Saia sungguh terkesan dengan kegigihan dan kecintaan Idris menjalani profesi unik ini. Ia bahkan berharap dapat menjadi manusia patung hingga tua. Hihi, siapa yang gak seneng ya, mematung pun dapet duit 🙂

Kembali ke pertanyaan teman saia tadi. Pertanyaan yang sebenarnya bukan tentang pekerjaan apa yang cocok, tapi tentang passion. Dan jawabannya ada di pernyataan Idris, “lahir dari hati.”

Passion itu adalah tentang apa yang kita suka, kita nikmati, yang akan terus kita lakukan meskipun orang lain menyepelekan, yang kita rela mengeluarkan tenaga, uang, waktu, atau apapun yang kita miliki demi kepuasan setelah mengikuti passion kita, yang kita akan merasa bersalah saat kita melupakan passion itu meskipun sejenak saja, yang kita berkomitmen untuk mengembangkan diri dalam bidang/kegiatan that we passionate in, yang kita merasa dunia luar seolah gak penting lagi saat kita bercengkrama dengan apa yang menjadi passion kita.

Itu jawaban saia untuk teman saia tadi. Panjang ya? Bukannya sok pintar, saia cuma merangkum apa yang pernah saia dengar dari sejumlah motivator. Saia juga seperti mengingatkan diri sendiri lagi terkait apa yang saia tulis. Saia memang menyenangi beberapa hal, tapi saia lemah dalam hal komitmen untuk mengembangkan diri in things that I’m passionate in.

When it comes to job, butuh keberanian seperti yang dimiliki Idris untuk terus menghidupkan passionnya. Caranya ya dengan working for yourself alias jadi wirausaha. Gampang beud deh ngomongnya. Aplikasinya? Jujur, saia perlu memantapkan diri dulu kalo untuk itu, meski memang bercita-cita hidup dari passion saia seutuhnya. Kalau memang kondisi belum memungkinkan to live (baca: to earn money) by your passion (which means we compromise just a little bit with our dreams), carilah celah, kesempatan, kemungkinan sekecil apapun untuk terus menghidupkan passion itu. Jangan sampe mati atau hilang si passion itu.

Terakhir, setahu saia, passion tidak pernah berhubungan, atau iseng-iseng dihubungkan dengan kedewasaan atau umur seseorang. Finding your passion is about finding yourself, from deep down inside. Mungkin kedewasaan justru bisa membantu dalam hal ini, karena dari sisi psikologis bisa dibilang kita sudah cukup matang. Mungkin lho yaa.. hehe 🙂 So, it’s never too late to find your passion! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s