Wahai Pengantin, Mana Jilbabmu?

Saia belum menemukan jawaban yang pas untuk pertanyaan ini:

            Apa sih arti jilbab bagi pengantin?

Mengapa bagi pengantin? Pengantin kan laki-laki dan perempuan, dan hanya perempuan – atau lebih tepatnya, muslimah – yang memakai jilbab?

Begini …

Saia sempat melihat beberapa pengantin perempuan yang, di hari-hari biasa mereka mengenakan jilbab, namun memutuskan untuk tidak mengenakannya di hari pernikahannya. Saia juga sempat menyaksikan hal yang sebaliknya, dimana sang pengantin perempuan tak berjilbab dalam kesehariannya, namun memutuskan untuk mengenakannya di hari sakral itu.

Melihat pemandangan yang pertama, saia sedih dan gemas, terutama karena (seandainya ia tahu) di saat muslimah lain yang belum berjilbab masih merasa perlu memantapkan diri untuk menutup apa yang diperintahkan Allah untuk ditutup, pengantin itu malah membuka kesempatan bagi orang lain yang bukan muhrimnya untuk melihat apa yang sehari-hari sudah ia tutup. Juga karena suami atau pengantin prianya juga tampak kurang memahami konsep aurat perempuan, sehingga merasa tidak ada masalah saat aurat perempuan yang baru dinikahinya itu, yang mestinya hanya menjadi ‘konsumsi’-nya, akhirnya menjadi ‘santapan’ mata pria lain yang bukan muhrimnya, tepat di hari ketika semua mata tertuju pada sepasang pengantin tersebut.

Yang terlihat memang ‘hanya’ leher, rambut, dan telinga (umumnya seperti itu), tapi tetap termasuk aurat kan? Dengan semakin bertebarannya ahli otak-atik jilbab di berbagai salon, rasanya tak perlu lagi pengantin perempuan itu menggadaikan ketaatannya pada Allah dengan terbukanya aurat meski ‘hanya’ untuk beberapa jam saja pada hari pernikahan itu.

Saia melihat jilbab bukan hanya sehelai kain. Kain itu melambangkan ketaatan pada Sang Maha Pencipta pada kewajiban yang sudah termaktub dalam Al-Qur’an tanpa perlu ditawar-tawar lagi. Melambangkan juga pemahaman bahwa Ia bermaksud memuliakan wanita melalui jilbab, karena saia yakin, penggunaan jilbab sesuai yang dituntunkan oleh-Nya benar-benar akan menjauhkan wanita dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Lalu tentang pemandangan kedua, saia hanya berharap, tak hanya di hari itu ia mengenakan jilbab, melainkan seterusnya. Semoga momen pernikahannya juga menjadi momen yang menggugah kesadarannya untuk menjadi muslimah yang lebih baik, apalagi dengan adanya suami atau sang imam di sampingnya.

Singkat kata, di hari pernikahan, seharusnya jilbab bukan hanya menjadi perhatian pengantin perempuan semata, melainkan pengantin prianya juga. Memangnya dia mau istri yang masih fresh from the oven itu ‘disantap’ pria lain? 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s