komersialisasi Ramadhan?

Ramadhan menyapa kita gak sampai dua minggu lagi. Tapi tengok saja TV. Mereka, para channel televisi itu, seperti punya kalender Hijriah sendiri, yang membuat bulan Ramadhan seolah datang gak hanya jauh lebih cepat, tapi juga lebih panjang. Iklan produk-produk, terutama makanan-minuman, hingga program promo provider ponsel, jadi santapan mata kita jauh sebelum Ramadhan yang sebenarnya datang. Bahkan iklan bersetting Idul Fitri juga ‘dipaksakan’ tayang bahkan sebelum Ramadhan mulai.

Saia pun jadi berpikir terjadi penyempitan makna Ramadhan, sedikit banyak karena bombardir iklan2 tersebut. Ramadhan seolah-olah ‘hanya’ menjadi sesuatu yang horor bagi mulut kita. Biasanya kita bisa makan dan minum dengan bebas, saat puasa semuanya harus di­-pause ­dulu selama 13 jam (waktu Indonesia pastinya 🙂 ). Puasa seolah-olah menjadi pengekang kebutuhan duniawi semata. Makanya, produk-produk makanan & minuman itu pun berlomba-lomba memberi ‘inspirasi’ menu untuk buka puasa nanti. Dan karena iklan sama dengan jualan, mereka kasih inspirasinya pun gak tanggung-tanggung: segelas sirup di-zoom in, diperlambat tampilannya, dikasih buah segala rupa, tak lupa esnya, diminum rame-rame, bahkan seolah menjadi ice breaker agar semua karakter dalam iklan tersebut bisa saling mengakrabkan diri. Sekarang, jujur deh, siapa diantara Anda semua yang saat puasa siang bolong nonton iklan sirup M***** lalu kepikiran, hingga pengen berbuka pake sirup tersebut hanya karena keliatan seger, padahal di hari-hari selain Ramadhan Anda bukanlah penggemar sirup?

Padahal, puasa lebih dari sekedar pause makan dan minum. Malah ada yang memang pause makan dan minum, tapi tidak sholat. Saia gak paham deh kalo yang semacam itu. Di Al-Qur’an jelas disebutkan tujuannya agar kita menjadi orang yang bertakwa.  Sependek dan sedangkal pengetahuan saia, diharapkan saat kondisi haus dan lapar tersebut, seseorang yang berpuasa akan dapat memahami dan memperbaiki kembali hubungannya dengan Tuhannya, dengan sekitarnya juga (melalui zakat fitrah).

Samar-samar saia teringat percakapan dengan dua orang teman non-Muslim dari Australia beberapa tahun silam yang membahas perayaan Natal di sana. Entah karena mereka cenderung agnostik atau memang kondisinya seperti itu di sana. Mereka bilang, perayaan Natal tak lebih dari urusan komersil semata, yang membuat Natal kehilangan maknanya. Seingat saia yang dimaksud mereka adalah bahwa orang lebih mementingkan kelengkapan pernak-pernik Natal, termasuk tradisi memberi kado, daripada makna Natal itu sendiri.

Kalo kita mau mengakui, keadaan serupa juga (hampir) terjadi di Indonesia. Seperti yang saia bilang tadi, Ramadhan belum datang saja iklan makanan & minuman di TV sudah sebegitu gencarnya. The so-called ‘sinetron religi,’ sebagian besar diantaranya, masih juga tayang dengan pola dan penampilan yang sama: ramai-ramai berjilbab (berpunuk unta pula, maklum seperti itulah yang didiktekan oleh trend) dan berbaju koko & berpeci, dengan pola cerita mengajak orang yang tadinya nakal menjadi alim, seolah-olah dunia hanya diisi oleh orang yang nakal (hitam) dan alim (putih). Ke mana perginya orang ‘abu-abu’?  Untungnya ada ‘sinetron religi’ lain yang non-mainstream, cukup mencerdaskan, dan menampung banyak orang ‘abu-abu’ tersebut 🙂 Keadaan lebih ‘parah’ akan bisa dengan mudah dilihat saat Lebaran nanti. Tradisi baju baru juga belum hilang sepenuhnya (terutama pada adik-adik kecil kita), meskipun sekian banyak ustadz sudah bolak-balik bilang bahwa Idul Fitri tidak sama dengan baju baru.

Ramadhan segera datang. Setidaknya, syukurilah bahwa kita, Anda dan saia, masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan mulia tersebut. Namun yang tak kalah penting adalah manfaatkanlah limpahan pahala-Nya tak hanya untuk beribadah dan beramal, tapi juga untuk memahami kembali hubungan kita dengan-Nya. Bukan sekadar memikirkan, “Berbuka dengan apa ya nanti?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s