Mendambakan Energi Positif di Pagi Hari – part 1

Kalau pagi hari, saia mendambakan HANYA hal-hal seperti ini saja yang disampaikan acara berita, apapun judulnya dan di stasiun televisi manapun itu:

Mahasiswa Indonesia Borong Medali di Kontes Robot (sumber)

Tim Olimpiade Fisika Indonesia Bawa Pulang Empat Perunggu (sumber)

Universitas Brawijaya Buka Kampus di Hong Kong (sumber)

Kopi Luwak Indonesia Coba Tembus Pasar Cina (sumber)

Sutradara Yogyakarta Menang di Asian Cinema Fund, Korea Selatan (sumber)

Liliyana Natsir Cetak Rekor di Kejuaraan Dunia (sumber)

Dan berhenti mengabarkan kerusuhan, perkosaan, tawuran, kecelakaan, korupsi, pembunuhan, mayat atau bagian tubuh ditemukan, kebakaran, dan segala yang membuat penonton memindahkan channel atau bahkan mematikan TV.

Saia berharap hanya energi positif yang disebar setiap pagi untuk seantero negeri.

Mungkin saia adalah orang kesekian ratus yang menginginkan Good News From Indonesia (@GNFI), misalnya, untuk memiliki stasiun televisi sendiri dan mengabarkan hanya yang manis tentang Indonesia.

Atau setidaknya, menanamkan pengaruh yang kuat terhadap para pemilik media agar berhenti menyebarkan energi negatif, terutama di pagi hari.

Atau berharap 250-sekian juta rakyat Indonesia ini, bukan hanya GNFI, bisa mendesak para pemilik media yang mungkin hanya sepersepuluh (perhitungan kasar semata) agar memperhatikan apa yang dikabarkan dan ditayangkannya.

Come on, hari baru juga mulai, udara masih bersih dari polusi knalpot, hawa masih sejuk, janganlah dirusak dengan berita yang hanya menebar energi negatif semacam itu. 

Tidaklah stasiun televisi, redaksi berita, pembaca beritanya lelah menyampaikan berita semacam itu every single day?

OK, tayangan yang mengingatkan kita untuk semakin mendekat pada Tuhan pun ada. Tapi hanya 30 menit. Di sisi lain, berita mendapat porsi 60 menit, bahkan ada yang sampai 90 menit. Dan komposisi berita umumnya bisa ditebak, sebagian besar berisi berita negatif. Berita positif biasanya hanya menjadi penutup sebelum keseluruhan 60 atau 90 menit acara berita itu usai, itupun belum tentu berita dari negeri ini.

Monggo artikan sendiri fakta tersebut.

Dalih ‘hanya sebagai pengingat agar hal negatif serupa tidak terjadi pada penonton, agar penonton lebih waspada’ tidak lagi berlaku, karena berita seperti itu hanya menebarkan ketakutan, ketidakpercayaan, dan bahkan contoh untuk melakukan hal negatif tersebut.

Sudah saatnya kita menjadi penonton yang lebih cerdas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s