Bermotor Harus Berjaket

Mungkin beberapa warga asing yang tinggal di Jogja, terheran-heran melihat warga Jogja mengendarai motor sambil mengenakan jaket. Di benak mereka mungkin ada pertanyaan seperti ini, “Panas-panas gini kok pake jaket? Emangnya gak kepanasan?”

Bagi saia pribadi sebagai pengendara motor, bermotor haruslah sambil berjaket. Bukan panas atau kegerahan yang saia permasalahkan, yang jujur aja gak pernah saia anggap penting meskipun saat mengenakan jaket/cardigan yang agak ketat sekalipun. Masalah saia adalah bau asap kendaraan.

Gimana nggak? Baju sudah ‘dipersenjatai’ dengan pelembut dan/atau pengharum cucian. Saat disetrika juga kadang diberi penghalus. Badan sudah disemprot parfum. Masa’ iya rela semua wewangian itu hilang karena ulah semena-mena asap kendaraan, apalagi asap bus atau truk yang biasanya lebih ‘kejam’?

Memangnya sebegitu penting ya wewangian?

Bagi saya, wewangian cukup penting asal digunakan sewajarnya dan tidak sampai mengundang syahwat lelaki. Yang penting bagi saia adalah bau badan dan pakaian saia gak mengganggu orang-orang di sekitar saia. Tapi di sini saia ingin melihat wewangian dari sisi kepantasan secara sosial saja.

Suatu ketika, saat saia sedang dalam ruangan ber-AC, seorang laki-laki yang mengendarai motor tanpa berjaket berhenti lalu memasuki ruangan tempat saia berada. Begitu ia membuka pintu, aroma kurang sedap belum terlalu tercium. Tapi begitu ia duduk di depan meja saia dan mulai mengutarakan maksud kedatangannya, bau tak enak mulai mengganggu hidung: bau asap yang menempel di bajunya dan bau keringat orang itu bercampur! -____-

Kalo dipikir2, mungkin masalahnya terletak pada bau yang dibawa lelaki tersebut, dan pada AC yang terpasang di ruangan saia. Seandainya ruangan saia tidak ber-AC, melainkan berjendela, terbuka semua, dan saat itu angin sepoi-sepoi bertiup, mungkin bau itu gak akan mengusik indera penciuman saia.

Cukup masuk akal kan mengapa bermotor harus berjaket? Jaket menjadi ‘tameng’ dari segala bebauan tak sedap yang menyerang pengendara motor di jalanan. Jaket menjadi fashion item yang semakin penting apabila pengendara motor tersebut akan mendatangi suatu acara penting dimana ia menjadi ‘pemeran utama,’ misalnya sidang skripsi/tesis, wawancara kerja, mau ta’aruf atau malah mungkin mau ketemu calon mertua (heheee…) dimana first impression is all that matters.

Jaket yang bisa menjadi tameng selayaknya jaket yang tebal. Mungkin yang berbahan kulit (kalo kebeli, hehe…), atau mau yang seperti digunakan para pendaki, atau apapun asal tidak tipis seperti cardigan. Sumuk alias gerah gak perlu dipermasalahkan, karena gak akan terlalu terasa kok kalo sedang dalam perjalanan! Yakin deh!

Jaket juga bisa menjadi pelindung rambut bagi pengendara motor yang memiliki rambut panjang. Kan sayang rambut sudah wangi dan rapi jali kalo tercemar bau jalanan…

Jadi, masih rela bau jalanan menempel di badan Anda??

Advertisements

4 thoughts on “Bermotor Harus Berjaket

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s