“Maaf, Aku Merindukanmu.”

“Maaf, aku merindukanmu.”

Tertanda, Terima Kasih, yang sedang sekarat.

Pesan pendek tersebut hendak dikirimkan Terima Kasih kepada Maaf, kekasihnya. Terima Kasih dan Maaf tidak memiliki ponsel, karena mereka tak ingin seperti beberapa manusia yang mulai mengacaukan makna Maaf dan Terima Kasih sejak keberadaan dan kemelesatan ponsel, dunia maya, media sosial, yang sulit mereka pahami.

Mereka hanyalah sepasang kata yang hidup di dunia manusia, yang hanya dapat bertemu dan menghabiskan waktu selama mungkin sesuka mereka jika manusia tak mengikis makna atau bahkan melupakan mereka. Hanya serendah itulah daya hidup mereka. Serendah kemampuan Terima Kasih untuk menyampaikan kerinduannya pada Maaf. Jika seseorang mengucapkan Maaf, bukan hanya Maaf yang akan berenergi, melainkan juga Terima Kasih, dan semakin besar pula kesempatan mereka untuk bertemu.

Entah dengan apa kerinduan Terima Kasih pada akhirnya akan tersampaikan. Angin? Hujan? Sinar Matahari? Terima Kasih juga enggan untuk berharap pada manusia. Ia tahu, bagi beberapa manusia, yang terpenting adalah memperbarui status dan foto di media sosial. Manusia enggan untuk meluangkan sedikit saja waktu dan pulsanya untuk menyampaikan hanya empat huruf dari kata Maaf jika seseorang melukai orang lain.

Terima Kasih juga semakin jarang mendapatkan energinya kembali. Beberapa manusia merasa, dengan kelebihan yang dimilikinya, mereka pantas menerima apa yang menurut mereka adalah haknya, dan enggan mengucap Terima Kasih. Seolah Terima Kasih adalah hal yang tabu. Bagi mereka, yang terpenting adalah mereka mendapatkan haknya. Perkara orang lain mendapat haknya atau tidak, mereka setengah hati memikirkan hal itu. Bahkan seandainya bisa,mereka sama sekali tidak mau memikirkannya.

—————————————————————————————————————————————————-

Image

gak ada kata yg lebih tepat (pinjam dari sini)

Fiksi sederhana (baca: maksa) di atas sebenarnya terinspirasi sepenuhnya dari apa yang belum lama saia alami, alias saia ‘hanya’ curcol semata, hehe 😀 Jadi, saia baru saja melunasi kewajiban saia pada seseorang, dan alhamdulillah saia pun sudah mendapat hak yang dijanjikan pada saia sebelumnya. Semestinya ini sudah cukup, atau mungkin saianya saja yang kurang bersyukur dan terlalu banyak menuntut. Karena, sempat terjadi situasi yang agak alot sebelum akhirnya saia mendapatkan hak saia. Situasi yang kurang lebih tercerminkan dari fiksi singkat di atas. Situasi yang membuat saia merasa saia layak mendapat kata ‘maaf’, kata yang sebenarnya sangat pendek, yang mungkin hanya seperseribu pendeknya dari sekali tarikan napas kita *ok, perhitungan ngasal* *tapi bener kan? 😉 * Tapi ternyata tidak. Mungkin angka-angka di rekening sudah ditugasi untuk mewakili kata ‘maaf’ tersebut.

Kenapa saia ‘iseng’ memasangkan ‘maaf’ dengan ‘terima kasih’? Karena saia pun tak mendengar atau membaca kata itu tersampaikan pada saia saat kewajiban sudah saia selesaikan. Saia bolakbalik positive thinking, yang perlahan menjadi sedikit negative thinking saat mendapati ada yang berubah di salah satu akun sang pemberi kerja di media sosial. Mungkin saya yang nyata memang kurang penting baginya dibandingkan yang maya. Mungkin memang ada yang salah dalam interaksi saia dengannya.

it should be beyond words, right? (ketemu di http://bit.ly/1gDHIPn)

it should be beyond words, right? (ketemu di sini)

Saia bukannya tidak berterima kasih padanya dan bukannya tidak bersyukur kepada Allah atas nikmat ini, tapi saia gak tahan untuk gak mikir, “Serius nih, gak ada maaf, gak ada terima kasih? What are you made of? Kamu terbuat dari apa sih sebenernya?”

Advertisements

4 thoughts on ““Maaf, Aku Merindukanmu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s