Menanti di Pasar Tradisional

ο»Ώο»Ώο»ΏTidak seperti kebanyakan anak perempuan yang jika mengantar ibunya ke pasar biasanya akan ikut turun & berbelanja menemani sang ibu, saia lebih sering nunggu aja di atas motor, nongkrong begitu aja….
Bukannya saia gak suka pasar tradisional. Yaaa meskipun aromanya bikin harus tahan napas atau tutup hidung barang sejenak πŸ˜€
Saia sih seneng2 aja belanja bejubelan di pasar. Yang bikin saia lebih sering nunggu di parkiran adalah, ibu saia rupanya tipe orang yang solo-shopper (as if there’s such term hehe..). Beliau lebih suka dan lebih nyaman belanja sendirian.
Padahal kalaulah saia ikut berbelanja, saia gak berisik. Maksudnya, gak rewel macam anak kecil yang kadang minta jajanan, atau minta pulang.Kalaulah saia ikut berbelanja, saia bisa membawakan belanjaan ibu.
Mungkin yang jadi masalah adalah, saia kurang bisa memberikan saran yang baik tentang apa yang mestinya dibeli oleh ibu saia. Saat ditanya, “Tuku opo maneh Fi?” (Jawa: beli apa lagi, Fi?) atau “Masak opo yo?” (masak apa ya?), saia lebih sering jawab “Terserah.” Maksudnya biar Ibu saia lebih bebas menentukan pilihan  gitu….
Yah… Ternyata Hampir tiap hari ke pasar juga bisa bingung mau belanja apa…
Tapi semata-mata nunggu di parkiran juga bukan tanpa risiko. Ibu saia bener2 menikmati belanja sendirian sampe saia kadang bosen nunggu di parkiran, hehe πŸ˜€ atau mungkin itu tadi ya, saking bingungnya mau belanja apa hihi πŸ˜‰

*ditulis sambil nunggu Ibu saia merampungkan segala transaksinya di pasar*

Posted from WordPress for Android

Advertisements