Damailah di Dumay

Saia pernah terlibat perselisihan dengan segelintir teman, yang semuanya terjadi tanpa tatap muka alias di dumay: melalui sms & media sosial.

image

Karena bertengkar di dumay itu sungguh gak keren — bukan berarti juga saia lanjut bertengkar di dunia nyata yaa — saia memutuskan untuk mengalah, ya dengan menanggung risiko ‘gondok’ karena saia merasa didholimi. (Atau mungkin hanya kelebaian saia aja ngerasa kayak gitu? Entahlah, hehe…).
Meskipun berselisih, ada satu hal yang bisa saia syukuri dari sana. Saia bersyukur saia masih berada dalam friend list mereka, terutama di Facebook (karena bagaimana pun juga FB adalah media sosial yang lebih populer ketimbang Twitter, Instagram, dll.).
Saia bersyukur, bahwa perselisihan itu gak parah-parah amat, bahwa kata-kata pedas yang dulu terlontar sekarang mungkin jadi kata-kata manis atau bahkan terlupakan & gak berarti, bahwa perselisihan itu sudah jadi perdamaian, semoga…
Dan yang mungkin terpenting, saia bersyukur masih bisa ngepoin mereka, muaahhahhaaaa *tertawa lebar* #apasih #abaikan. Kemungkinan itu tentu tertutup kalo saia udah gak lagi ada di friend list mereka.
Ada seorang teman yang baru aja menutup kemungkinan itu buat saia, karena saia di-unfriend olehnya. Awalnya saia agak shock, “wow, dia bener2-bener segitunya ya..”. Tapi ya sudahlah… Mungkin perbedaan ‘frekuensi’ antara saia dengannya udah gak bisa ditolerir, mau apa lagi?

Gambar pinjam dari: bit.ly/KnG6ej

Posted from WordPress for Android

Advertisements