Galau Kerja?

Ingatlah mereka ini, bercerminlah pada mereka, dan bersyukurlah.

Orang tua yang tak putus mendoakan.

Penjual Yakult yang berjalan dari satu tempat ke tempat lain, tanpa saia berniat membelinya sama sekali. Bahkan menatap wajahnya untuk memberikan ‘penolakan termanis’ pun saia tak sanggup (dan mungkin tak mau juga).

Pedagang kue moci keliling yang mungkin menyadari 2 hal: (1) bahwa dagangannya bukan sesuatu yang mainstream; dan (2) bahwa ke-tidakmainstream-annya itu beresiko ditolak dagangannya.

Pemungut & pengumpul sampah yang kebetulan salah satu tangannya kurang sempurna, setia berkeliling mencari sampah dengan gerobaknya. 

Ibu pedagang jajanan pasar yang berkeliling tiap sore, menghampiri setiap rumah berbekal kepercayaan diri dan keyakinan jajanannya akan laku, namun hanya mendapatkan penolakan halus dari mereka yang sedang tidak ingin menikmati kudapan di sore hari dan dari mereka yang terganggu dengan kepercayaan dirinya saat  menjajakan dagangannya.

Simbah pedagang koran di lampu merah Demangan yang menolak dikasihani dan lebih memilih korannya dibeli saja (lihat di sini)

Penari-penari di lampu merah, dengan modal seadanya dan bahkan tanpa ada musik pengiring.

Orang-orang yang sebenarnya hanya ingin mencari nafkah untuk dirinya sendiri (mungkin karena enggan menyusahkan anaknya) dan untuk keluarganya, namun seringkali hanya senyum dan penolakan ‘seikhlasnya’ yang mereka dapatkan dari saia.

Dan semoga galau saia mencari nafkah terobati: 

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

(Berulang-ulang dalam QS. Ar-Rahman)

Membahagiakan atau Bermanfaat?

Pilih mana diantara dua pilihan ini:

Membahagiakan orang lain

atau

Bermanfaat bagi orang lain?

Memangnya beda ya?

Setidaknya menurut saia, beda!

Selama beberapa tahun dalam hidup saia, saia pernah terjebak dalam suatu tindakan yang saia pikir akan membahagiakan orang lain, tapi saia lupa bahwa saia juga harus bahagia. Nggaklah, bukan berarti saia selfless sampek mengutamakan kebahagiaan orang lain instead of kebahagiaan saia sendiri. Kadang ada kalanya saia pun merasa perlu mewujudkan kebahagiaan saia sendiri, terutama untuk kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sifatnya sementara.

Maksud saia membahagiakan orang lain terutama adalah untuk tujuan-tujuan besar dalam hidup. Ini yang tidak saia miliki selama beberapa tahun itu. Cita-cita, mimpi, atau apapun lah namanya. Saat itu saia merasa hidup ya berjalan aja. Memang sih, ada cita-cita, tapi gak ada aksi konkrit untuk mencapainya. Menyangka bahwa saia akan dengan mudah mencapai cita-cita. Lugunya saia. Atau lebih menohoknya lagi, bodohnya saia.

Suatu perenungan panjang akhirnya menyadarkan saia, bahwa saia juga harus bahagia. Cara untuk mewujudkan kebahagiaan saia adalah: (1) menyadari sepenuhnya bahwa sebagai manusia, sudah seharusnya saia memiliki tujuan hidup, tentu tujuan hidupnya yang diridhoi oleh-Nya ya.. (2) bekerja keras dan bekerja cerdas untuk menuju destinasi tersebut, si cita-cita.

Berarti, gak perlu lagi dong membahagiakan orang lain? Berarti saia egois dong?

Kini saia berprinsip, membahagiakan orang lain alangkah lebih baik jika saia pun bahagia melakukannya. Jika saia ikhlas dan tidak terpaksa melakukannya. Jika tindakan itu tidak menghilangkan arti saia sebagai seorang manusia. Percuma dong saia ‘repot-repot’ membahagiakan orang lain, tapi saia cuma dapet ‘nilai’ dosa?

Jadi, saia kayak pedagang ya, gak mau rugi?

Bisa jadi, bisa jadi! *eat bulaga style* Kalau saia ikhlas dan bahagia saat membahagiakan orang lain, insya Allah ada nilai ibadahnya dong? Dapet pahala, kan? Hidup itu singkat masbro, mbaksis… Kapan lagi mau ngumpulin pahala? *tsaaaaaah* Gitu aja sih saia mikirnya. Btw jangan salah, setiap pedagang memang gak mau rugi, tapi ada kalanya dia harus rugi, untuk mendapatkan untung besar di kemudian hari, betul tidakkk? 😉

Image

Pinjam dari sini: http://bit.ly/1cQ61o9

Kini, bagi saia yang lebih penting adalah gimana saia bisa bermanfaat untuk orang lain. Misalnya, dengan berbagi, salah satunya dengan bersedekah. Orang lain merasakan manfaatnya, saia pun mendapat pahala. Insya Allah, Allah memudahkan urusan-urusan saia. Atau dengan tindakan-tindakan lain yang juga tak kalah manfaat dan pahalanya.

Dan bukankah hadits Rasulullah (riwayat Thabrani & Daruquthni) menyebutkan bahwa, “… Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia”? 😉

Nikah, Bukan Soal Urutan

Postingan mbak Ayana tentang pernikahan adiknya mendorong saia (mampir ke sini) untuk membuat tulisan penuh pengandaian ini. Penuh pengandaian, tapi bukan fiksi ya… Karena saia gak tahu apakah saia masih punya ‘jodoh’ untuk menulis fiksi atau tidak. Dan mungkin akan ada sedikit unsur galau-isme di sini, hehe 😎 )

Sebagai anak tunggal, saia gak pernah membayangkan untuk melangkahi ataupun dilangkahi untuk menikah. Namun, beberapa teman ternyata punya pengalaman dilangkahi menikah terlebih dahulu oleh adik-adiknya, and I feel them.

Saia paham betapa ‘menantangnya’ untuk menguatkan batin dan membuka pintu keikhlasan mempersilakan adik melengkapi separuh agamanya terlebih dahulu. Seorang teman bahkan seperti harus bersandiwara saat ia menjadi seksi repot di pernikahan adiknya. Wow, it must be real tough yaa… Apalagi dia cuma dua bersaudara dengan adiknya itu. Kalo saia jadi dia, mungkin pengennya gak keliatan aja, pake Invisible Cloak-nya Harry Potter haha 😆  atau ditelan bumi deh (tapi ‘dikeluarin’ lagi pas nikahan udah selesai hehe ;))

Malah pernah juga saia dengar cerita seorang teman SMA yang dilangkahi menikah oleh adiknya. Suami adiknya, alias adik iparnya, malah berusia lebih tua dari teman saia ini. Pikiran iseng saia sih nyeletuk, “Mungkin si adik ipar itu malah lebih cocok sama teman saia, kalo dilihat dari segi umur.” Tapi ini kan hanya pemikiran manusia awam yang sok tau aja hehe…

Usia seseorang memang gak mencerminkan kewajiban menikah *membela diri sendiri* *abis gak ada yang belain* *lho*. Seseorang memang sebaiknya menikah saat ia sudah siap, lahir dan batin.

Namun perkara gak berhenti sampai di situ. Mencari yang klik (baca: yang jodohnya dunia-akhirat) juga butuh waktu dan usaha, bisa sebentar, bisa lama, bisa mudah, bisa sulit… Itu semua rahasia Allah yang menjadi tugas manusia untuk menguaknya, semampunya, sambil terus memantaskan dan menyiapkan diri.

Yuk deh mareeee 🙂

Eyang Bule di Indonesia

Diantara sekian banyak wisatawan asing yang mendatangi Indonesia, khususnya Jogja yang bisa dengan mudah saia lihat kehadirannya, yang paling menarik perhatian saia adalah wisatawan asing yang sudah berumur.

Saia langsung menebak-nebak saja, mungkin mereka punya konsep yang berbeda tentang menghabiskan masa tuanya dibandingkan dengan orang tua-orang tua di negara kita. Ini generalisasi, memang. Tapi bagi saia ini menarik juga untuk diamat-amati.

Wisata Pedesaan di Jogja dengan sepeda Onthel

Wisata Pedesaan di Jogja dengan sepeda Onthel

Wisatawan asing sepuh yang paling sering saia lihat adalah bule-bule Eropa, Amerika, Australia. Ada yang datang berombongan besar, ada pula yang hanya bersama pasangannya (setidaknya saat saia melihatnya ya. Bisa jadi juga pasangan ini bagian dari rombongan yang punya agenda wisata sendiri). Turis-turis dari Asia lebih sering terlihat berombongan besar.

Wisatawan asing, baik yang muda ataupun sepuh, cenderung lebih tertarik pada acara-acara seni dan budaya setempat dan tempat-tempat yang bernilai sejarah. Jarang sekali saia lihat mereka mengunjungi tempat wisata alam.

DIY Siap Sambut Kunjungan Wisatawan

Rombongan turis berbecak, salah satu pemandangan paling umum di Jogja

Yang bisa saia tebak-tebak dari kehadiran mereka adalah mungkin mereka masih memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi, yang diwujudkan melalui keinginan untuk mengunjungi negara2 yang mungkin mereka nilai ‘eksotis’ sebelum mereka tiada.

Orang tua di negara kita pun punya rasa ingin tahu yang tinggi, tapi lebih terhadap tumbuh kembang cucunya, betul? Orang tua kita juga ada kok yang bepergian ke luar negeri, lebih banyak karena tujuan agama, misalnya umroh atau haji.

Nah, erat kaitannya dengan umroh atau haji adalah biaya. Namanya bepergian ke luar negeri pasti butuh duit dong ya. Sependek pengetahuan saia sih, kalo orang Indonesia mau ke luar negeri pasti berasa nguras isi tabungan, dibandingkan bule-bule yang berkunjung ke Indonesia, lantaran nilai tukar rupiah dengan mata uang asing yang rata-rata tinggi.

Ini sih sok taunya saia aja. Daripada tabungan orang tua-orang tua di Indonesia habis dipake buat jalan-jalan, mereka lebih ikhlas menggunakannya untuk keperluan anak-anak mereka, meskipun anak-anak mereka sudah pada mandiri juga. Jadi rasa kekeluargaan itu masih erat di Indonesia.

Di luar, di negara-negara Barat (lagi-lagi ini sok taunya saia lho…), kemandirian (dan bahkan mungkin hingga mencapai level individualitas) sangat dijunjung tinggi.

Dan hal lain yang menurut saia layak diacungi jempol adalah kekuatan fisik para eyang bule itu. Mungkin ada satu-dua orang yang perlu menggunakan alat bantu seperti tongkat untuk berjalan. Sedangkan yang lainnya berjalan pelan-pelan mengikuti kemampuan fisiknya, seakan-akan menikmati keindahan tempat yang ditujunya, merekamnya dalam ingatan, untuk menciptakan kenangan dan prestasi berhasil mengunjungi negara lain sebelum mereka tiada. 

Terlalu Bingung untuk Menjuduli

Seharian ini, 14 Oktober 2013, jagat internet Indonesia sedang diramaikan salah satunya dengan pernikahan seorang perempuan bernama Putri Herlina dengan seorang pria bernama Reza Somantri.

Njuk ngopo? So whatEmangnya mereka siapa?

Pertanyaan di atas mungkin tidak akan diajukan jika belum membaca sendiri kisah harunya di sini. Kisah yang bercerita lebih komplit tentang siapa itu Putri Herlina, Reza Somantri, hingga saia tergerak untuk sedikit merespon kisah tersebut.

Putri Herlina beberapa kali pernah muncul di TV. Ia adalah satu dari sekian banyak sosok yang ditampilkan televisi, yang ‘bertugas’ untuk mengingatkan kita untuk lebih banyak bersyukur, dan yang lebih penting lagi menurut saia adalah, untuk lebih banyak memantaskan diri, lebih merendah di hadapan-Nya, lebih mewaspadai kesombongan-kesombongan laten yang tidak (atau ‘enggan’?) saia sadari kehadirannya.

*saia seperti tertampar saat mengetikkan ini*

Reza Somantri berasal dari keluarga yang berkecukupan, itulah mengapa di status FB saia tulis ‘like a fairy tale’. Bagaikan langit dan bumi, tapi berpadu dalam skenario-Nya yang indah, dalam sebuah dongeng manis.

Gak terbayang sama saia, bagaimana rasanya menjadi seorang Putri Herlina, dengan keterbatasannya. Namun, keterbatasannya itu ditempa dengan cara-Nya yang luar biasa, hingga berkembang menjadi sayap dan naungan yang mengasihi dan menyayangi anak-anak yang bernasib serupa dengannya di panti asuhan.

Kadang saia iri dengan mental baja seperti itu, mental yang kini sedang saia bangun *self-plak lagi*

Dan, bagian dari tulisan itu yang membuat saia semakin berkaca-kaca adalah bagian ini,

Image

Bener-bener bakti saia ke orangtua kayak gak ada apa2nya 😥

*sampe bingung mau dijudulin apa* *itu judul sementara dulu deh*

Bermotor Harus Berjaket

Mungkin beberapa warga asing yang tinggal di Jogja, terheran-heran melihat warga Jogja mengendarai motor sambil mengenakan jaket. Di benak mereka mungkin ada pertanyaan seperti ini, “Panas-panas gini kok pake jaket? Emangnya gak kepanasan?”

Bagi saia pribadi sebagai pengendara motor, bermotor haruslah sambil berjaket. Bukan panas atau kegerahan yang saia permasalahkan, yang jujur aja gak pernah saia anggap penting meskipun saat mengenakan jaket/cardigan yang agak ketat sekalipun. Masalah saia adalah bau asap kendaraan.

Gimana nggak? Baju sudah ‘dipersenjatai’ dengan pelembut dan/atau pengharum cucian. Saat disetrika juga kadang diberi penghalus. Badan sudah disemprot parfum. Masa’ iya rela semua wewangian itu hilang karena ulah semena-mena asap kendaraan, apalagi asap bus atau truk yang biasanya lebih ‘kejam’?

Memangnya sebegitu penting ya wewangian?

Bagi saya, wewangian cukup penting asal digunakan sewajarnya dan tidak sampai mengundang syahwat lelaki. Yang penting bagi saia adalah bau badan dan pakaian saia gak mengganggu orang-orang di sekitar saia. Tapi di sini saia ingin melihat wewangian dari sisi kepantasan secara sosial saja.

Suatu ketika, saat saia sedang dalam ruangan ber-AC, seorang laki-laki yang mengendarai motor tanpa berjaket berhenti lalu memasuki ruangan tempat saia berada. Begitu ia membuka pintu, aroma kurang sedap belum terlalu tercium. Tapi begitu ia duduk di depan meja saia dan mulai mengutarakan maksud kedatangannya, bau tak enak mulai mengganggu hidung: bau asap yang menempel di bajunya dan bau keringat orang itu bercampur! -____-

Kalo dipikir2, mungkin masalahnya terletak pada bau yang dibawa lelaki tersebut, dan pada AC yang terpasang di ruangan saia. Seandainya ruangan saia tidak ber-AC, melainkan berjendela, terbuka semua, dan saat itu angin sepoi-sepoi bertiup, mungkin bau itu gak akan mengusik indera penciuman saia.

Cukup masuk akal kan mengapa bermotor harus berjaket? Jaket menjadi ‘tameng’ dari segala bebauan tak sedap yang menyerang pengendara motor di jalanan. Jaket menjadi fashion item yang semakin penting apabila pengendara motor tersebut akan mendatangi suatu acara penting dimana ia menjadi ‘pemeran utama,’ misalnya sidang skripsi/tesis, wawancara kerja, mau ta’aruf atau malah mungkin mau ketemu calon mertua (heheee…) dimana first impression is all that matters.

Jaket yang bisa menjadi tameng selayaknya jaket yang tebal. Mungkin yang berbahan kulit (kalo kebeli, hehe…), atau mau yang seperti digunakan para pendaki, atau apapun asal tidak tipis seperti cardigan. Sumuk alias gerah gak perlu dipermasalahkan, karena gak akan terlalu terasa kok kalo sedang dalam perjalanan! Yakin deh!

Jaket juga bisa menjadi pelindung rambut bagi pengendara motor yang memiliki rambut panjang. Kan sayang rambut sudah wangi dan rapi jali kalo tercemar bau jalanan…

Jadi, masih rela bau jalanan menempel di badan Anda??

Jadi Penyiar Radio (?)

Selain menjadi supir antar jemput anak sekolah, cita-cita konyol yang pernah saia punyai kala kecil dulu adalah menjadi pemilik rental komik.

Hehe… Saia gak tahu apakah ini cikal-bakal jiwa bisnis saia *maksa* atau hanya kekonyolan anak-anak semata.

Yang pasti, dulu saia memang salah satu konsumen rental komik, setidaknya sampai masa SMA. Meskipun bukan konsumen setia, yang masih agak-agak menempel di ingatan saia adalah bahwa dulu saia pembaca Candy-Candy (yang epic banget ituuuu), Harlem Beat, Doraemon, Detective Conan, … … Kung fu Komang termasuk gak ya? Kayaknya saia pernah baca komik kung fu yang kocak gitu, tapi lupa judulnya :hammer:

Candy and all the guys around her

Candy and all the guys around her

sumber gambar

Dan khusus komik aja lho, karena dulu saia juga ngerentalnya cuma komik, meskipun di sana tersedia juga novel. Saia gak pernah ngerental novel, mungkin karena saia tipe orang dengan cara belajar visual, jadi lebih suka yang bergambar. Gak masalah sih baca novel, tapi lama… Kalo ngerental novel mungkin duit abis buat perpanjang doang, hehe…

Dan, ada lagi cita-cita konyol saia yang terakhir. Malah, ini lebih dari sekadar konyol, tapi juga gak tahu diri, hehe… Yaitu menjadi penyiar radio!

Semasa kecil sampai kira-kira lima tahun yang lalu saia adalah pendengar setia radio. Frekuensi saia mendengar radio sekarang sudah agak jarang, makanya saia termasuk kudet kalo soal lagu2 terbaru, apalagi kalo soal boyband-girlband Korea & Indonesia hehe…

Salah satu pengalaman yang saia ingat betul seputar saia dan radio adalah, saat sekitar kelas 5 atau 6 SD, saia pernah menelpon suatu stasiun radio di Bandar Lampung, untuk merequest lagu! Lagu dewasa pula hehe… (tentang fenomena anak-anak yang mendengar lagu-lagu dewasa akan saia bahas di postingan lain waktu, insya Allah 😉 ).

Yang membuat pengalaman itu melekat di ingatan adalah saia gak paham bahwa saat menelpon ke radio, volume suara radio dikecilkan. Kalau tidak, jadinya, “Apa Mas? Gak denger! Berisik banget nih” padahal waktu itu sunyi senyap di rumah saia -_-

Kenapa dulu saia pengen jadi penyiar radio? Karena tampaknya pekerjaannya menyenangkan sekali: ‘ngoceh’ terus dibayar!

just an illustration of radio announcer

just an illustration of radio announcer

sumber gambar

Saia pun gak pernah mikirin soal suara yang harus mikrofonis untuk menjadi penyiar radio. Soalnya, saia baru tahu syarat itu setelah dewasa, hehe… Dan seumur-umur saia hidup, baru ada satu orang aja yang bilang suara saia bagus, terutama saat bicara on the phone. Ah, teman yang bilang suara saia bagus itu terlalu ringan memuji 😉

Saia pun pernah dengar rekaman suara saia sendiri, and i have to admit it sounds strange. Atau justru unik? Yang dibutuhkan dunia kepenyiaran? Mungkin semacam wajah unik Tracy Trinita yang laku jadi model? Haha ngimpiiii…

Tapi entah kemudian saia merasa bahwa I’m not talkative enough to be a radio announcer. Saia merasa penyiar radio pastilah orang yang luwes dalam berbicara, dan mungkin saia belum termasuk orang yang seperti itu. Entahlah, mungkin saat itu saia sedang membunuh mimpi saia sendiri. Tampaknya dulu saia belum begitu paham perjuangan meraih mimpi.

Eh tapi, ternyata ada lho stasiun radio yang gaya bicara penyiarnya ‘lempeng’ aja, persis seperti membaca skrip. Saklek, bisa dibilang hampir nol improvisasi. Tidak ada nada bicara ceria untuk membicarakan sesuatu yang memang benar-benar menarik, atau nada-nada bicara lainnya untuk menyesuaikan dengan situasi yang akan disampaikannya ke pendengar.

Mau tau radio apa? Warga Bandung mungkin mengenal radio yang khusus memutar musik bergenre jazz ini. Mungkin saia bisa apply kerja di sana, hehe :mrgreen:

Jadi Supir Antar Jemput Anak Sekolah

Saia yakin, di masa kecilnya dulu, setiap orang pernah punya cita-cita yang terdengar konyol, terutama bagi orang dewasa.

Kurang lebih seperti salah satu episode Upin-Ipin, dimana setiap anak di kelasnya Upin Ipin tersebut diminta untuk maju ke depan, menceritakan cita-citanya.

Tiba giliran Fizi, yang dicita-citakannya adalah menjadi tukang sampah. Memang sih, digambarkan bahwa di sana tukang sampah mengambil sampah dengan menggunakan mobil canggih. Kurang lebih seperti yang pernah saia lihat di TV, tukang sampah di Inggris juga menggunakan mobil serupa.

Fizi menceritakan cita-citanya

Fizi menceritakan cita-citanya

Mobilnya besar, sebesar truk, yang mampu menutup semua sampah. Di sini juga ada mobil semacam itu yang berwarna kuning. Tapi, yang biasanya mengambil sampah di komplek rumah saia adalah mobil pick-up biasa, yang bagian tembok/dinding mobilnya dibuat sendiri untuk bisa menampung banyak sampah. Sayangnya, sering sekali sampah-sampah beterbangan atau jatuh keluar dari mobil penampungan sampah sederhana tersebut 👿

Fizi sudah memasukkan semua sampah ke truk

Fizi sudah memasukkan semua sampah ke truk

Kembali ke Fizi. Cikgu Yasmin, ibu guru yang bijaksana itu pun terkejut mendengar cita-cita Fizi. Tapi dengan kebijaksanaannya, Cikgu mengatakan bahwa kita boleh bercita-cita apa saja, asalkan baik 😀

Lalu, bagaimana dengan saia?

Kala kecil saia pernah bercita-cita menjadi supir antar-jemput anak sekolah, karena saat SD saia adalah salah satu ‘konsumen setia’ layanan antar-jemput ini, hehe… Karena juga, pekerjaan ini tampak mudah, tapi menjanjikan, buktinya sampai sekarang profesi ini masih ada yang melakoninya 🙂

Tapi, tanggung jawab supir antar jemput juga gak kecil lho.. Ia harus hafal jadwal selesai sekolah untuk setiap kelas. Biasanya kelas 1-2 SD pulang lebih awal dari kelas 5-6 SD, kan? Ia juga harus hafal nama setiap anak plus masing2 rumahnya sehingga bisa bikin rute antar-jemput yang efisien tanpa membuat anak terlambat masuk sekolah, harus bisa momong anak, dan ia juga harus mewaspadai kasus penculikan anak yang hingga kini masih menghantui pikiran orang tua. Betul apa betul? 8)

Contoh antar-jemput anak sekolah

Contoh antar-jemput anak sekolah

Ini baru cita-cita konyol saia yang pertama. Cita-cita konyol lainnya ditunggu di postingan berikutnya ya 😉

Sumber Gambar:

1. Fizi atas & bawah di-capture dari video Upin Ipin, channel Lescopaque di youtube.com

2. http://antarjemputcitraindah.blogspot.com/2012/09/tips-memilih-layanan-antar-jemput.html

Jualan Tanpa Harga

Orang Indonesia itu umumnya pekewuh (bhs. Jawa), rikuh, perlu muter-muter dulu, alias tidak to the point kalo ngomongin uang, termasuk yang akan saia bahas kali ini, yaitu harga suatu barang atau jasa, thus the tittle of this post :mrgreen:

Repotnya, hal ini terjadi dalam beberapa perniagaan, baik barang ataupun jasa, baik di dunia nyata ataupun virtual. Yang saia maksud perniagaan di sini khususnya yang terjadi di pasar yang cenderung modern, bukan di pasar tradisional yang memang masih menjunjung tinggi komunikasi antara pedagang dan pembeli.

Jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan, “Kenapa juga sih harganya gak langsung disebutin?” belum saia temukan.

Padahal oh padahal, harga adalah pertanyaan yang hampir pasti pertama kali diajukan calon konsumen saat melihat barang idamannya tidak memiliki label harga. Selain itu, sama sekali gak repot lho untuk menuliskan/mengetikkan harga di stiker label harga, di situs, brosur, atau media iklan lainnya.

Memang sih, kadang-kadang ada customer service atau semacamnya yang tugasnya melayani konsumen dan calon konsumen yang penasaran soal harga. Kalaupun ternyata tidak terjadi kecocokan antara si calon konsumen dengan barang/jasa yang diincarnya terutama dalam hal harga, memang itu resiko pekerjaannya. Asal si calon konsumen jangan dituduh PHP aja hehe 😉

Memang lagi, customer service juga lebih efektif dibandingkan hanya selembar stiker label harga, karena ia bisa mempersuasi calon konsumen untuk akhirnya membeli produk tersebut.

Sebenarnya, terbuka sejak awal dengan menyantumkan harga menguntungkan bukan hanya konsumen, tapi juga customer service lho.. Keduanya sama-sama untung karena menghemat waktu dan bisa juga hemat pulsa, terutama kalo misalnya si calon konsumen batal bertransaksi karena harganya kemahalan.

Mungkin, customer service memang tetap diperlukan, tapi pastikan job description-nya tidak termasuk inefisiensi (bukan Vickynisasi loooh :P) pekerjaan seperti yang saia sebutkan di paragraf sebelumnya.

Eh, jadi ngomongin customer service, sih?

Yang pasti, jadi pedagang sebaiknya terbuka aja soal harga. Berdagang kan memang untuk cari uang, cari rejeki. Konsumen dan calon konsumen pasti semakin nyaman bertransaksi dengan pedagang seperti ini.

Didoakan Dhuafa

Salah satu hal yang membahagiakan buat saia adalah didoakan dan disenyumi kaum dhuafa, setelah saia memberikan apa yang saia miliki, secukupnya dan semampu saia, kepada mereka.

“Semoga berkah, mbak.”

“Semoga lancar rejekinya.”

Pernah juga,

“Mbak, gak salah kasih segini?”

Saia gak bilang bahwa saia ahli sedekah. Saia belum termasuk orang yang berani mengeluarkan uang dengan nominal terbesar dalam dompet saia saat kencleng/kotak amal diedarkan atau saat kaum dhuafa datang.

Saia bukan tak percaya akan balasan Allah yang beratus kali lipat besarnya. Mungkin iman saia belum se-mumpuni itu dan cinta saia pada dunia masih tebal.

Pun saia gak tega kalau hanya mengeluarkan beberapa keping recehan 100 perak, saat misalnya saia berada di dalam ruangan atau mobil ber-AC sedangkan dhuafa tadi berjalan kaki hanya dengan sandal jepit, berpanas-panas, mengais rejeki. Kurang pantas aja, gitu.

Saia yakin surga gak semurah dan segampang receh 100 perak.

Perkara doa-doa itu tulus atau tidak, saia gak mau mikirin, khawatir nantinya saia terjebak pada su’udhon dan malah merusak pahala amal saia. Biar itu Allah saja yang tahu.

Btw, doa yang belum pernah saia dengar dari kaum dhuafa adalah, “Semoga cepat dapat jodoh, mbak.”

#eh  #ngarep