Jangan Lagu Dewasa untuk Anak!

Tulisan ini untuk melunasi janji saia di tulisan yang itu tuuuh.

Saia termasuk yang setuju bahwa anak-anak semestinya hanya ‘menyantap’ apa yang seharusnya mereka santap: bacaan, film, musik, dll. Lebih spesifik lagi, telinga anak-anak mestinya bersih dari lagu-lagu dewasa yang tentu belum cocok dengan rentang usia mereka.

Dari beberapa tulisan di internet yang membahas psikologi anak, bisa saia rangkum bahwa anak-anak yang mendengar lagu orang dewasa, secara tidak sadar telah tertanam dalam dirinya nilai-nilai yang tidak (belum) pantas untuk diketahui olehnya.

Apalagi jika menyimak lagu orang dewasa masa kini yang makin beragam subtemanya. Maksudnyaaahh? Gini lho, sependek pengetahuan saia sih, lagu orang dewasa tahun ’70-‘80an lebih banyak bertema besar tentang percintaan, dengan subtema: harapan cintanya akan diterima, patah hati, menyanjung-nyanjung kekasih hati, dll. Dengan kata lain, lebih banyak tentang percintaan yang ‘lurus’ aja gitu.

Kalo untuk yang masa kini, coba deh cermati sejenak lirik lagu dewasanya. Subtema semakin luas: perselingkuhan bisa aja diolah dengan ‘apik’ agar menjadi lagu yang bisa diterima pasar. Subtema lainnya adalah menggoda kekasih/pasangan orang lain. Dan masih banyak subtema-subtema lainnya yang jelas gak cocok untuk anak.

Maksud saia adalah, percintaan yang ‘lurus’ saja sebenernya gak pantas didengar oleh anak-anak hingga menjadi soundtrack of their daily life, apalagi percintaan yang ‘bengkok’ seperti selingkuh itu tadi.

Parah dan menggelikannya lagi, banyak orang tua yang bangga kalau anaknya hafal lagu-lagu ini, apalagi kalau bisa mengiringinya dengan joget khas anak-anak yang megal-megol ala kadarnya itu. Seperti sebuah prestasi besar kalau anak-anak bisa segera melampaui masa kanak-kanaknya, seolah masa kanak-kanak itu masa yang menyeramkan. *serius banget saia ngomongnya yakk?*

Yang lebih menggelikan lagi adalah bahwa saia sendiri sebenarnya termasuk salah satu dari anak-anak tersebut. Huhu… maafkan ya… bukan bermaksud munafik, tapi seiring berjalannya waktu dan semakin banyaknya informasi yang saia serap tentang dunia lagu anak-anak ini, saia malah merasa I was on the wrong side back then.

Atau mungkin bukan on the wrong side ya… #pembelaan

Jaman dulu media informasi kan terbatas hanya media elektronik (yang pastinya berperan lebih penting dalam penyebarluasan lagu-lagu) dan media cetak. Sekarang, media internet malah tampaknya lebih juara dibandingkan dua media ‘tradisional’ tersebut. Tugas orang tua untuk menjaga anaknya dari pengaruh buruk kedua media tersebut masih tergolong ringan. Sekarang, internet seolah sudah menjadi kebutuhan primer tambahan selain sandang, pangan, dan papan. Bukan hanya anak yang fasih internet, tapi orang tua juga gak mau kalah. Di satu sisi ini bagus, karena orang tua bisa memanfaatkannya untuk mengawasi dan mengerem pergerakan anak di dumay. Sisi buruknya adalah kalau orang tua malah keranjingan internet.

Ahhh panjang deh kalo bahas internet, mungkin bisa bikin postingan sendiri hehe…

Yang pasti, kalo saia pribadi, dulu selama SD memang mendengarkan lagu anak-anak. Saia masih inget salah satu kaset pertama dan favorit saia adalah Jordy, si anak Perancis yang populer dengan hitsnya Dur Dur D’etre Bebe (Olala Bebe) itu. Lalu kalo gak salah ingat, sekitar kelas 6 SD, selera saia ‘loncat’ jadi Dewa 19, terutama album Pandawa Lima yang musikalitasnya memang bagus namun dengan liriknya yang jauh lebih dahsyat dibandingkan Dewa sekarang.

jordy

ketemu di sini: http://bit.ly/1jEKWyR

Dan ya mulai saat itulah saia menggemari lagu-lagu dewasa. Efeknya bagi saia,…. apa ya? Entahlah… kalau cinta monyet saat saia di SD akhir – SMP, rasanya wajar deh hehe #pembelaanlagi Mungkin orang tua saia benar-benar memainkan perannya dengan baik untuk menunjukkan what’s right and what’s wrong, jadi lagu-lagu itu ya sebatas hiburan saja… Memang sempat ada sih beberapa lagu yang jadi soundtrack of my life, tapi lama-kelamaan lagu itu gak terlalu penting lagi. Ada saat ketika saia menikmati lagu hanya karena nostalgic feeling aja, makanya saia gak terlalu update sama lagu-lagu baru.

Gimana dengan Anda? *asli saia bingung nutup tulisan ini gimana* *hehe*

Jadi Penyiar Radio (?)

Selain menjadi supir antar jemput anak sekolah, cita-cita konyol yang pernah saia punyai kala kecil dulu adalah menjadi pemilik rental komik.

Hehe… Saia gak tahu apakah ini cikal-bakal jiwa bisnis saia *maksa* atau hanya kekonyolan anak-anak semata.

Yang pasti, dulu saia memang salah satu konsumen rental komik, setidaknya sampai masa SMA. Meskipun bukan konsumen setia, yang masih agak-agak menempel di ingatan saia adalah bahwa dulu saia pembaca Candy-Candy (yang epic banget ituuuu), Harlem Beat, Doraemon, Detective Conan, … … Kung fu Komang termasuk gak ya? Kayaknya saia pernah baca komik kung fu yang kocak gitu, tapi lupa judulnya :hammer:

Candy and all the guys around her

Candy and all the guys around her

sumber gambar

Dan khusus komik aja lho, karena dulu saia juga ngerentalnya cuma komik, meskipun di sana tersedia juga novel. Saia gak pernah ngerental novel, mungkin karena saia tipe orang dengan cara belajar visual, jadi lebih suka yang bergambar. Gak masalah sih baca novel, tapi lama… Kalo ngerental novel mungkin duit abis buat perpanjang doang, hehe…

Dan, ada lagi cita-cita konyol saia yang terakhir. Malah, ini lebih dari sekadar konyol, tapi juga gak tahu diri, hehe… Yaitu menjadi penyiar radio!

Semasa kecil sampai kira-kira lima tahun yang lalu saia adalah pendengar setia radio. Frekuensi saia mendengar radio sekarang sudah agak jarang, makanya saia termasuk kudet kalo soal lagu2 terbaru, apalagi kalo soal boyband-girlband Korea & Indonesia hehe…

Salah satu pengalaman yang saia ingat betul seputar saia dan radio adalah, saat sekitar kelas 5 atau 6 SD, saia pernah menelpon suatu stasiun radio di Bandar Lampung, untuk merequest lagu! Lagu dewasa pula hehe… (tentang fenomena anak-anak yang mendengar lagu-lagu dewasa akan saia bahas di postingan lain waktu, insya Allah 😉 ).

Yang membuat pengalaman itu melekat di ingatan adalah saia gak paham bahwa saat menelpon ke radio, volume suara radio dikecilkan. Kalau tidak, jadinya, “Apa Mas? Gak denger! Berisik banget nih” padahal waktu itu sunyi senyap di rumah saia -_-

Kenapa dulu saia pengen jadi penyiar radio? Karena tampaknya pekerjaannya menyenangkan sekali: ‘ngoceh’ terus dibayar!

just an illustration of radio announcer

just an illustration of radio announcer

sumber gambar

Saia pun gak pernah mikirin soal suara yang harus mikrofonis untuk menjadi penyiar radio. Soalnya, saia baru tahu syarat itu setelah dewasa, hehe… Dan seumur-umur saia hidup, baru ada satu orang aja yang bilang suara saia bagus, terutama saat bicara on the phone. Ah, teman yang bilang suara saia bagus itu terlalu ringan memuji 😉

Saia pun pernah dengar rekaman suara saia sendiri, and i have to admit it sounds strange. Atau justru unik? Yang dibutuhkan dunia kepenyiaran? Mungkin semacam wajah unik Tracy Trinita yang laku jadi model? Haha ngimpiiii…

Tapi entah kemudian saia merasa bahwa I’m not talkative enough to be a radio announcer. Saia merasa penyiar radio pastilah orang yang luwes dalam berbicara, dan mungkin saia belum termasuk orang yang seperti itu. Entahlah, mungkin saat itu saia sedang membunuh mimpi saia sendiri. Tampaknya dulu saia belum begitu paham perjuangan meraih mimpi.

Eh tapi, ternyata ada lho stasiun radio yang gaya bicara penyiarnya ‘lempeng’ aja, persis seperti membaca skrip. Saklek, bisa dibilang hampir nol improvisasi. Tidak ada nada bicara ceria untuk membicarakan sesuatu yang memang benar-benar menarik, atau nada-nada bicara lainnya untuk menyesuaikan dengan situasi yang akan disampaikannya ke pendengar.

Mau tau radio apa? Warga Bandung mungkin mengenal radio yang khusus memutar musik bergenre jazz ini. Mungkin saia bisa apply kerja di sana, hehe :mrgreen:

Jadi Supir Antar Jemput Anak Sekolah

Saia yakin, di masa kecilnya dulu, setiap orang pernah punya cita-cita yang terdengar konyol, terutama bagi orang dewasa.

Kurang lebih seperti salah satu episode Upin-Ipin, dimana setiap anak di kelasnya Upin Ipin tersebut diminta untuk maju ke depan, menceritakan cita-citanya.

Tiba giliran Fizi, yang dicita-citakannya adalah menjadi tukang sampah. Memang sih, digambarkan bahwa di sana tukang sampah mengambil sampah dengan menggunakan mobil canggih. Kurang lebih seperti yang pernah saia lihat di TV, tukang sampah di Inggris juga menggunakan mobil serupa.

Fizi menceritakan cita-citanya

Fizi menceritakan cita-citanya

Mobilnya besar, sebesar truk, yang mampu menutup semua sampah. Di sini juga ada mobil semacam itu yang berwarna kuning. Tapi, yang biasanya mengambil sampah di komplek rumah saia adalah mobil pick-up biasa, yang bagian tembok/dinding mobilnya dibuat sendiri untuk bisa menampung banyak sampah. Sayangnya, sering sekali sampah-sampah beterbangan atau jatuh keluar dari mobil penampungan sampah sederhana tersebut 👿

Fizi sudah memasukkan semua sampah ke truk

Fizi sudah memasukkan semua sampah ke truk

Kembali ke Fizi. Cikgu Yasmin, ibu guru yang bijaksana itu pun terkejut mendengar cita-cita Fizi. Tapi dengan kebijaksanaannya, Cikgu mengatakan bahwa kita boleh bercita-cita apa saja, asalkan baik 😀

Lalu, bagaimana dengan saia?

Kala kecil saia pernah bercita-cita menjadi supir antar-jemput anak sekolah, karena saat SD saia adalah salah satu ‘konsumen setia’ layanan antar-jemput ini, hehe… Karena juga, pekerjaan ini tampak mudah, tapi menjanjikan, buktinya sampai sekarang profesi ini masih ada yang melakoninya 🙂

Tapi, tanggung jawab supir antar jemput juga gak kecil lho.. Ia harus hafal jadwal selesai sekolah untuk setiap kelas. Biasanya kelas 1-2 SD pulang lebih awal dari kelas 5-6 SD, kan? Ia juga harus hafal nama setiap anak plus masing2 rumahnya sehingga bisa bikin rute antar-jemput yang efisien tanpa membuat anak terlambat masuk sekolah, harus bisa momong anak, dan ia juga harus mewaspadai kasus penculikan anak yang hingga kini masih menghantui pikiran orang tua. Betul apa betul? 8)

Contoh antar-jemput anak sekolah

Contoh antar-jemput anak sekolah

Ini baru cita-cita konyol saia yang pertama. Cita-cita konyol lainnya ditunggu di postingan berikutnya ya 😉

Sumber Gambar:

1. Fizi atas & bawah di-capture dari video Upin Ipin, channel Lescopaque di youtube.com

2. http://antarjemputcitraindah.blogspot.com/2012/09/tips-memilih-layanan-antar-jemput.html