Bersih Sampah Visual

Diantara segala keriuhan pemilu yang kurang dari 2 bulan lagi itu—mulai dari caleg yang berlomba-lomba memanfaatkan bencana sebagai momen perkenalan kepada para konstituennya, Angel Lelga yang kikuk menjawab pertanyaan Najwa Shihab, kampanye (terselubung?) taipan media slash capres berbulan-bulan sebelum 9 April nanti yang dianggapnya bukan kampanye, dan lainnya yang memenuhi ruang dengar dan ruang pandang kita beberapa bulan ini—saia lebih memilih yang ini:

Image

bersih sampah visual!

Foto tersebut diambil di jalan yang hampir setiap hari saia lewati menuju kantor, di Padukuhan Pikgondang, Sleman, Yogyakarta. Tepatnya Jl. Pandega Sakti terus ke arah timur.

Apakah ini pertanda kegolputan?

Saia tidak melihatnya demikian. Alih-alih, saia melihatnya sebagai suatu bentuk kesadaran dan protes (sebagian kecil) masyarakat yang bosan melihat bertebarannya sampah-sampah visual yang memajang foto orang-orang yang umumnya sama sekali tidak dikenal sebelumnya, kemudian mak bedunduk meminta perhatian kita untuk dipilih saat pemilu nanti.

Tentu kita berhak menjaga mata kita dari apa yang tidak ingin kita lihat, kan?

Eyang Bule di Indonesia

Diantara sekian banyak wisatawan asing yang mendatangi Indonesia, khususnya Jogja yang bisa dengan mudah saia lihat kehadirannya, yang paling menarik perhatian saia adalah wisatawan asing yang sudah berumur.

Saia langsung menebak-nebak saja, mungkin mereka punya konsep yang berbeda tentang menghabiskan masa tuanya dibandingkan dengan orang tua-orang tua di negara kita. Ini generalisasi, memang. Tapi bagi saia ini menarik juga untuk diamat-amati.

Wisata Pedesaan di Jogja dengan sepeda Onthel

Wisata Pedesaan di Jogja dengan sepeda Onthel

Wisatawan asing sepuh yang paling sering saia lihat adalah bule-bule Eropa, Amerika, Australia. Ada yang datang berombongan besar, ada pula yang hanya bersama pasangannya (setidaknya saat saia melihatnya ya. Bisa jadi juga pasangan ini bagian dari rombongan yang punya agenda wisata sendiri). Turis-turis dari Asia lebih sering terlihat berombongan besar.

Wisatawan asing, baik yang muda ataupun sepuh, cenderung lebih tertarik pada acara-acara seni dan budaya setempat dan tempat-tempat yang bernilai sejarah. Jarang sekali saia lihat mereka mengunjungi tempat wisata alam.

DIY Siap Sambut Kunjungan Wisatawan

Rombongan turis berbecak, salah satu pemandangan paling umum di Jogja

Yang bisa saia tebak-tebak dari kehadiran mereka adalah mungkin mereka masih memiliki rasa ingin tahu yang cukup tinggi, yang diwujudkan melalui keinginan untuk mengunjungi negara2 yang mungkin mereka nilai ‘eksotis’ sebelum mereka tiada.

Orang tua di negara kita pun punya rasa ingin tahu yang tinggi, tapi lebih terhadap tumbuh kembang cucunya, betul? Orang tua kita juga ada kok yang bepergian ke luar negeri, lebih banyak karena tujuan agama, misalnya umroh atau haji.

Nah, erat kaitannya dengan umroh atau haji adalah biaya. Namanya bepergian ke luar negeri pasti butuh duit dong ya. Sependek pengetahuan saia sih, kalo orang Indonesia mau ke luar negeri pasti berasa nguras isi tabungan, dibandingkan bule-bule yang berkunjung ke Indonesia, lantaran nilai tukar rupiah dengan mata uang asing yang rata-rata tinggi.

Ini sih sok taunya saia aja. Daripada tabungan orang tua-orang tua di Indonesia habis dipake buat jalan-jalan, mereka lebih ikhlas menggunakannya untuk keperluan anak-anak mereka, meskipun anak-anak mereka sudah pada mandiri juga. Jadi rasa kekeluargaan itu masih erat di Indonesia.

Di luar, di negara-negara Barat (lagi-lagi ini sok taunya saia lho…), kemandirian (dan bahkan mungkin hingga mencapai level individualitas) sangat dijunjung tinggi.

Dan hal lain yang menurut saia layak diacungi jempol adalah kekuatan fisik para eyang bule itu. Mungkin ada satu-dua orang yang perlu menggunakan alat bantu seperti tongkat untuk berjalan. Sedangkan yang lainnya berjalan pelan-pelan mengikuti kemampuan fisiknya, seakan-akan menikmati keindahan tempat yang ditujunya, merekamnya dalam ingatan, untuk menciptakan kenangan dan prestasi berhasil mengunjungi negara lain sebelum mereka tiada. 

Terlalu Bingung untuk Menjuduli

Seharian ini, 14 Oktober 2013, jagat internet Indonesia sedang diramaikan salah satunya dengan pernikahan seorang perempuan bernama Putri Herlina dengan seorang pria bernama Reza Somantri.

Njuk ngopo? So whatEmangnya mereka siapa?

Pertanyaan di atas mungkin tidak akan diajukan jika belum membaca sendiri kisah harunya di sini. Kisah yang bercerita lebih komplit tentang siapa itu Putri Herlina, Reza Somantri, hingga saia tergerak untuk sedikit merespon kisah tersebut.

Putri Herlina beberapa kali pernah muncul di TV. Ia adalah satu dari sekian banyak sosok yang ditampilkan televisi, yang ‘bertugas’ untuk mengingatkan kita untuk lebih banyak bersyukur, dan yang lebih penting lagi menurut saia adalah, untuk lebih banyak memantaskan diri, lebih merendah di hadapan-Nya, lebih mewaspadai kesombongan-kesombongan laten yang tidak (atau ‘enggan’?) saia sadari kehadirannya.

*saia seperti tertampar saat mengetikkan ini*

Reza Somantri berasal dari keluarga yang berkecukupan, itulah mengapa di status FB saia tulis ‘like a fairy tale’. Bagaikan langit dan bumi, tapi berpadu dalam skenario-Nya yang indah, dalam sebuah dongeng manis.

Gak terbayang sama saia, bagaimana rasanya menjadi seorang Putri Herlina, dengan keterbatasannya. Namun, keterbatasannya itu ditempa dengan cara-Nya yang luar biasa, hingga berkembang menjadi sayap dan naungan yang mengasihi dan menyayangi anak-anak yang bernasib serupa dengannya di panti asuhan.

Kadang saia iri dengan mental baja seperti itu, mental yang kini sedang saia bangun *self-plak lagi*

Dan, bagian dari tulisan itu yang membuat saia semakin berkaca-kaca adalah bagian ini,

Image

Bener-bener bakti saia ke orangtua kayak gak ada apa2nya 😥

*sampe bingung mau dijudulin apa* *itu judul sementara dulu deh*

Bermotor Harus Berjaket

Mungkin beberapa warga asing yang tinggal di Jogja, terheran-heran melihat warga Jogja mengendarai motor sambil mengenakan jaket. Di benak mereka mungkin ada pertanyaan seperti ini, “Panas-panas gini kok pake jaket? Emangnya gak kepanasan?”

Bagi saia pribadi sebagai pengendara motor, bermotor haruslah sambil berjaket. Bukan panas atau kegerahan yang saia permasalahkan, yang jujur aja gak pernah saia anggap penting meskipun saat mengenakan jaket/cardigan yang agak ketat sekalipun. Masalah saia adalah bau asap kendaraan.

Gimana nggak? Baju sudah ‘dipersenjatai’ dengan pelembut dan/atau pengharum cucian. Saat disetrika juga kadang diberi penghalus. Badan sudah disemprot parfum. Masa’ iya rela semua wewangian itu hilang karena ulah semena-mena asap kendaraan, apalagi asap bus atau truk yang biasanya lebih ‘kejam’?

Memangnya sebegitu penting ya wewangian?

Bagi saya, wewangian cukup penting asal digunakan sewajarnya dan tidak sampai mengundang syahwat lelaki. Yang penting bagi saia adalah bau badan dan pakaian saia gak mengganggu orang-orang di sekitar saia. Tapi di sini saia ingin melihat wewangian dari sisi kepantasan secara sosial saja.

Suatu ketika, saat saia sedang dalam ruangan ber-AC, seorang laki-laki yang mengendarai motor tanpa berjaket berhenti lalu memasuki ruangan tempat saia berada. Begitu ia membuka pintu, aroma kurang sedap belum terlalu tercium. Tapi begitu ia duduk di depan meja saia dan mulai mengutarakan maksud kedatangannya, bau tak enak mulai mengganggu hidung: bau asap yang menempel di bajunya dan bau keringat orang itu bercampur! -____-

Kalo dipikir2, mungkin masalahnya terletak pada bau yang dibawa lelaki tersebut, dan pada AC yang terpasang di ruangan saia. Seandainya ruangan saia tidak ber-AC, melainkan berjendela, terbuka semua, dan saat itu angin sepoi-sepoi bertiup, mungkin bau itu gak akan mengusik indera penciuman saia.

Cukup masuk akal kan mengapa bermotor harus berjaket? Jaket menjadi ‘tameng’ dari segala bebauan tak sedap yang menyerang pengendara motor di jalanan. Jaket menjadi fashion item yang semakin penting apabila pengendara motor tersebut akan mendatangi suatu acara penting dimana ia menjadi ‘pemeran utama,’ misalnya sidang skripsi/tesis, wawancara kerja, mau ta’aruf atau malah mungkin mau ketemu calon mertua (heheee…) dimana first impression is all that matters.

Jaket yang bisa menjadi tameng selayaknya jaket yang tebal. Mungkin yang berbahan kulit (kalo kebeli, hehe…), atau mau yang seperti digunakan para pendaki, atau apapun asal tidak tipis seperti cardigan. Sumuk alias gerah gak perlu dipermasalahkan, karena gak akan terlalu terasa kok kalo sedang dalam perjalanan! Yakin deh!

Jaket juga bisa menjadi pelindung rambut bagi pengendara motor yang memiliki rambut panjang. Kan sayang rambut sudah wangi dan rapi jali kalo tercemar bau jalanan…

Jadi, masih rela bau jalanan menempel di badan Anda??

Tangan Masyarakat di Tempat Wisata

Postingan saia kali ini masih menyinggung soal destinasi wisata.

Saat konsultasi ke mbah Google tentang tujuan wisata tertentu, kadangkala saia mendarat di suatu tulisan yang membahas kekurangan tempat tersebut, dan ada kalimat semacam ini, “Semoga pemerintah segera menata tempat ini dengan baik agar lebih nyaman dikunjungi.”

Pertanyaan besar muncul di otak saia.

“Kenapa harus pemerintah yang menata? Memangnya masyarakat gak bisa?”

Justru masyarakatlah yang lebih mampu melakukannya, asalkan mereka sadar wisata dan sadar potensi ekonomi. Tapi setahu saia, masyarakat yang tinggal di dekat suatu destinasi wisata sadar betul bahwa ada sumber penghasilan yang menjanjikan di dekat rumah mereka.

Dan justru masyarakatlah yang lebih mampu melakukannya, karena mereka sudah lama tinggal di wilayah tersebut dan lebih memahami apa yang diperlukan agar destinasi wisata tersebut berkembang.

Mungkin saia antipati terhadap pemerintah atau apapun istilahnya, karena seringkali fasilitas yang dibangun pemerintah hanya bersifat seremonial saja dan tidak serius perawatan dan pengelolaannya untuk jangka panjang.

Di sinilah masyarakat memainkan peran utamanya, sebagai penghuni wilayah tersebut, yang menunjukkan kecintaan pada wilayahnya dengan terus berbenah untuk menciptakan destinasi wisata yang nyaman bagi pengunjung.

Malah menurut saia, sebagai pengunjung kita harus mengapresiasi upaya masyarakat setempat untuk mempercantik tempat wisata tersebut, karena mereka melakukannya secara swadaya.

Memangnya pemerintah tidak membantu? Saia gak bilang begitu lho ya.. Mungkin ada bantuan yang diberikan, tapi yang harus diurusi pemerintah kan buanyaaaak sekali.

Kemandirian masyarakat bisa menjadi solusi paling efektif untuk menggarap potensi wisata & ekonomi ini.

Bikin Liburan Anda Beda!

Sedikit ‘tertampar’ dengan chirpstory-nya pak Jamil Azzaini di sini, akhirnya saia memutuskan untuk semakin rajin nge-blog, biar gak jadi rumah hantu nih blog, hehe..

Dan bener juga sih, postingan blog sebaiknya gak terlalu panjang. Bahkan di chirpstory tersebut ditulis, “Satu alinea sekitar 3 kalimat, kog pendek? Memang dunia online beda dgn offline #TipsMenulisBlog.” Saia juga sebenernya males sih baca blog yang terlalu panjang.

Khususnya dunia kuliahlah yang ‘menyetel’ pola pikir saia, bahwa tulisan akademik yang panjang seolah menunjukkan bahwa penulisnya tampak ‘smart,’ tapi mungkin tergantung siapa yang nulis ya.. Tulisan yang panjang tapi argumennya gak mengena dan banyak pengulangannya juga sama aja bohong.

So, here is my post, setelah sekian lama absen, semoga gak terlalu panjang ya 🙂

Masa-masa libur Lebaran kemarin Jogja ramai sekali. Orang berlomba-lomba membuat itinerary liburannya seseru mungkin, terutama dengan memilih tempat-tempat yang belum banyak publikasinya di media. Kebayang dong, misalnya semua orang yang berlibur itu menuju Pantai Indrayanti, apa bedanya sama ‘cendol’ dong tuh pantai?

Dengan kata lain, orang berlomba-lomba mencari dan menciptakan liburan yang seru di tempat yang sesepi mungkin, karena jenuh dengan keramaian kota. Tapi, hey, mayoritas mereka pasti eksis di jagat maya kan? Punya akun twitter, facebook, instagram, whatsapp, line, dan kawan-kawannya yang aktif diperbarui dong? Masih yakin harapan seperti itu bisa secara harfiah terpenuhi seutuhnya?

Apalagi, sekarang internet bukan barang mahal. Kalaupun sedang bokek, bisa numpang wi-fian di kafe, perpustakaan, atau di mana pun yang menyediakan fasilitas wi-fi. Lalu, ‘konsultasi intensif’ dengan mbah Google. Orang pun biasanya bangga bisa menemukan tempat yang jarang pengunjungnya.

Saia paham betapa gak nyamannya berlibur di tempat yang terlalu ramai. Betapa tenang dan hening bisa merasuk sampai ke kalbu saat tiba di pantai yang sepi, misalnya. Tapi realistis sajalah, kalo memang lagi musim durian, masa’ iya berharap ada mangga? Ngerti dong ya maksud saia 😉

Atau, berstrategilah sedikit.

Saia punya teman yang ‘niat’ banget mengejar kesunyian di Pantai Siung, Gunungkidul, Jogja, dengan berangkat tepat habis sholat Subuh. Padahal, rumahnya di Jogja, di kotanya. Karena masih pagi banget, jalanan juga masih sepi. Normalnya kota Jogja – Gunungkidul ditempuh dalam waktu 2 jam (keramaian lalu lintas biasa aja, bukan musim liburan), katanya waktu itu ia tiba di GK tidak sampai 2 jam. Bahkan petugas retribusi (tiket masuk) pun belum ada, ia hanya diminta bayar parkir.

Gak ada salahnya Anda meniru strategi di atas. Memilih waktu sore hari untuk melihat sunset juga bisa, tapi perlu diingat juga bahwa melihat sunset adalah salah satu kegiatan mainstream yang dilakukan orang yang mengunjungi pantai. Dengan kata lain, pikirkanlah kegiatan liburan yang non-mainstream.

Atau, Anda bisa menginap di sekitar tempat wisata yang sudah Anda incar sejak lama. Misalnya, di Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunungkidul, yang memiliki fasilitas homestay (info terbaru klik di sini). Dengan menginap di homestay, Anda mendapatkan dobel manfaat: berbagi rezeki dengan penduduk di sana, tapi juga berkenalan dengan kehidupan masyarakat di sana.

No pain, no gain, mbaksis & masbro. Jaman sekarang, menciptakan liburan yang bisa recharge semangat Anda untuk kembali bekerja juga perlu ikhtiar. Anda sudah jauh-jauh datang dari kota rantauan Anda dan kembali ke kampung halaman, Anda hanya perlu berikhtiar sedikit lagi agar liburan Anda semakin seru :mrgreen:

JTJ Trip on May: Air Terjunnya Kering, Mbak!

Berwisata ke air terjun, bahkan saat musim masih pancaroba (belum sepenuhnya kemarau), ternyata adalah keputusan yang salah.

Kesimpulan itulah yang saia ambil saat kami akhirnya tak menemukan tanda-tanda air mengalir di Air Terjun Tahunan, bagian timur Pantai Parangtritis, Bantul. Saia sendiri sempat ngotot dan berharap air terjun itu gak kering, karena beberapa hari sebelumnya hujan deras sempat mengguyur Jogja secara merata (kurang lebih demikian pantauan saia melalui Twitter) setelah seminggu lebih tidak hujan. Ternyata derasnya hujan yang merata itu tak cukup untuk membuat air terjun kembali ‘basah.’ Jadilah saia merasa tak enak dengan temans JTJ (Jilbab Traveler Jogja) yang sudah saia kompori untuk ke tempat ini. Apalagi kami sengaja pergi pagi-pagi, mengingat tak hanya satu tempat yang hendak kami datangi. Akhirnya kami rehat sejenak sambil menikmati angin laut selatan untuk kemudian melanjutkan perjalanan.

Tujuan kedua memang masih di Bantul, tapi rupanya butuh waktu hampir satu jam untuk mencapai tempat ini. Dari Parangtritis kami menuju Kebun Buah Mangunan (KBM), di mana jalan yang kami tempuh tepat berada di pinggir Kali Opak. Jalan ini tembus ke pertigaan, yang jika ke kanan ke arah Panggang (SPN Selopamioro), ke kiri menuju Jl. Imogiri Timur. Kami belok kiri. Tiba di Jl. Imogiri Timur, tinggal ikuti saja papan petunjuk yang sudah tersedia.

Biaya masuk KBM sebesar Rp. 5.000/orang. Seingat saia kendaraan tak dikenai biaya di sini. KBM adalah kompleks perkebunan buah di area perbukitan. Sebelum menyusuri jalur perbukitan, dapat kita lihat embung/kolam besar yang digunakan beberapa orang untuk memancing ikan, serta mainan anak-anak. Sepanjang jalur tersebut memang ada beberapa pohon jambu biji, tapi masih pendek-pendek. Sepertinya belum lama ditanam. Secara keseluruhan, tidak banyak buah yang kami lihat di sana. Memang ada pohon jeruk, tapi buahnya pun masih kecil-kecil. Saia pribadi hanya terkesan dengan meander Kali Oyo yang subhanallah epic banget 🙂 spot di mana kita bisa menikmati meander tersebut juga jadi ‘studio foto’ favorit setiap orang yang berkunjung ke sana.

Image

belum lama perjalanan di KBM dimulai

Image

subhanallah epic view!

Image

Tujuan terakhir kami hari itu (Kamis, 9 Mei 2013) adalah hutan pinus yang dapat ditempuh hanya dengan kurang lebih 10 menit perjalanan dari KBM. Hampir setiap orang yang berkunjung ke KBM melanjutkan tamasyanya ke hutan ini, atau dengan pola sebaliknya. Di sini kami hanya membayar parkir motor sebesar Rp. 2.000/motor. Kalau mobil, saia kurang tahu hehe… Biasanya maksimal Rp. 5.000/mobil. Hutan pinus ini sebenarnya luas, yang di bagian tanahnya dipenuhi tumbuhan pendek yang saia tak tahu namanya hehe… Bagian yang dapat dinikmati pengunjung adalah hutan yang bagian bawahnya bersih dari tumbuhan tersebut, alias hanya tanah biasa, yang luasnya kurang lebih 2 – 3 kali lapangan bola. Setelah berpanas-panasan di KBM, hutan pinus adalah tempat yang pas untuk ngadem. Pucuk-pucuk pohon pinus yang hampir rapat membuat tak banyak sinar matahari yang masuk, meski gak gelap juga sih… Keeksotisannya membuat hutan ini digunakan untuk berbagai keperluan fotografi, baik foto serombongan bersama teman-teman atau berdua saja bersama pasangan alias prewed.

Image

ademnya pinus

Mbolang bulan depan ke mana lagi nih?? 🙂

Image

jangan cuma diinjak, difoto juga! 🙂

Image

rapet

Image

bunga pinus

Image