Bersih Sampah Visual

Diantara segala keriuhan pemilu yang kurang dari 2 bulan lagi itu—mulai dari caleg yang berlomba-lomba memanfaatkan bencana sebagai momen perkenalan kepada para konstituennya, Angel Lelga yang kikuk menjawab pertanyaan Najwa Shihab, kampanye (terselubung?) taipan media slash capres berbulan-bulan sebelum 9 April nanti yang dianggapnya bukan kampanye, dan lainnya yang memenuhi ruang dengar dan ruang pandang kita beberapa bulan ini—saia lebih memilih yang ini:

Image

bersih sampah visual!

Foto tersebut diambil di jalan yang hampir setiap hari saia lewati menuju kantor, di Padukuhan Pikgondang, Sleman, Yogyakarta. Tepatnya Jl. Pandega Sakti terus ke arah timur.

Apakah ini pertanda kegolputan?

Saia tidak melihatnya demikian. Alih-alih, saia melihatnya sebagai suatu bentuk kesadaran dan protes (sebagian kecil) masyarakat yang bosan melihat bertebarannya sampah-sampah visual yang memajang foto orang-orang yang umumnya sama sekali tidak dikenal sebelumnya, kemudian mak bedunduk meminta perhatian kita untuk dipilih saat pemilu nanti.

Tentu kita berhak menjaga mata kita dari apa yang tidak ingin kita lihat, kan?

Advertisements

Makan Burger itu Gak Cantik!!

Untuk menu makan siang beberapa waktu yang lalu, saia menjatuhkan pilihan pada hamburger #NjukNgopo #SoWhat #BukanMauPamer. Dan saia memilih untuk makan di tempat, bukan dibungkus untuk dimakan di kantor.

Kenapa saia menuliskan si kalimat terakhir itu? Karena kalo beli burger, saia selalu membawanya pulang ke rumah, agar bisa dimakan dengan cara aneh saia tanpa perlu diliatin orang-orang, hehe… Biarlah saia dibilang sok anggun karena emoh mangap lebar-lebar agar si burger bisa masuk ke mulut saia *halah* Tapi saia sih memang berprinsip begitu, karena saia kan bukan ular *lho* *iki opo meneh*

Saia makan burger dengan ‘menguliti’ lapisannya satu per satu, sesuai dengan prinsip makan saia, ‘save the best for last,’ alias bagian yang paling sedap dimakan belakangan. Tapi gak saklek per lapisan juga sih, kelamaan hehe 🙂 Pokoknya gimana caranya biar itu burger bisa saia makan sambil tetap menjaga keanggunan *halah*

Dan itu pulalah yang saia lakukan dengan cueknya saat makan burger di tempat. Dan untungnya, gak ada yang ngeliatin. Mungkin pegawai kedai burger sudah paham ya dengan cara ‘ndeso’ orang Indonesia dalam menyantap burger. Jadi ya… bukan tontonan baru dan menarik bagi mereka. Mungkin yang penting bagi mereka adalah saia gak kabur dan lupa bayar setelah burgernya habis, haha…

Tentu tau dong kalo burger termasuk salah satu fast food. Dan sesuai dengan namanya, segala makanan yang masuk dalam genre ini memang ditujukan untuk dimakan dengan cepat. Semua atas nama penggunaan waktu secara efisien oleh warga Amerika Serikat, tempat di mana fast food memang populer dan menjadi favorit (meskipun ada pula yang memperdebatkan bahwa khususnya burger berasal dari Hamburg, Jerman). Bagi mereka, time is money.

Salah satu cara untuk makan dengan cepat adalah mangap lebar-lebar. Mau burgernya tebel atau tipis sekalipun, mereka akan mangap layaknya buaya hehe… kenapa? Kalo saia boleh menyimpulkan dari potongan2 serial reality show Fast Food Mania berikut, orang Amrik seperti gak mau rugi saat makan burger. Mereka gak akan merelakan satu potongan kecilpun jatuh saat makan burger. Makanya, harus mangap lebar-lebar agar dalam sekali gigit, semua lapisan kena. Jadilah di dalam mulut ada potongan makanan yang besar sehingga mulut terlihat penuh, yang bikin makan jadi kegiatan yang gak ‘cantik’ sama sekali.

Sedangkan untuk burger yang tebel, bahkan sampe ketebalan yang gak pernah terbayang sebelumnya, bisa diliat di sini:

 

Fanatisme orang Amrik terhadap fast food emang dahsyat….

Membahagiakan atau Bermanfaat?

Pilih mana diantara dua pilihan ini:

Membahagiakan orang lain

atau

Bermanfaat bagi orang lain?

Memangnya beda ya?

Setidaknya menurut saia, beda!

Selama beberapa tahun dalam hidup saia, saia pernah terjebak dalam suatu tindakan yang saia pikir akan membahagiakan orang lain, tapi saia lupa bahwa saia juga harus bahagia. Nggaklah, bukan berarti saia selfless sampek mengutamakan kebahagiaan orang lain instead of kebahagiaan saia sendiri. Kadang ada kalanya saia pun merasa perlu mewujudkan kebahagiaan saia sendiri, terutama untuk kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sifatnya sementara.

Maksud saia membahagiakan orang lain terutama adalah untuk tujuan-tujuan besar dalam hidup. Ini yang tidak saia miliki selama beberapa tahun itu. Cita-cita, mimpi, atau apapun lah namanya. Saat itu saia merasa hidup ya berjalan aja. Memang sih, ada cita-cita, tapi gak ada aksi konkrit untuk mencapainya. Menyangka bahwa saia akan dengan mudah mencapai cita-cita. Lugunya saia. Atau lebih menohoknya lagi, bodohnya saia.

Suatu perenungan panjang akhirnya menyadarkan saia, bahwa saia juga harus bahagia. Cara untuk mewujudkan kebahagiaan saia adalah: (1) menyadari sepenuhnya bahwa sebagai manusia, sudah seharusnya saia memiliki tujuan hidup, tentu tujuan hidupnya yang diridhoi oleh-Nya ya.. (2) bekerja keras dan bekerja cerdas untuk menuju destinasi tersebut, si cita-cita.

Berarti, gak perlu lagi dong membahagiakan orang lain? Berarti saia egois dong?

Kini saia berprinsip, membahagiakan orang lain alangkah lebih baik jika saia pun bahagia melakukannya. Jika saia ikhlas dan tidak terpaksa melakukannya. Jika tindakan itu tidak menghilangkan arti saia sebagai seorang manusia. Percuma dong saia ‘repot-repot’ membahagiakan orang lain, tapi saia cuma dapet ‘nilai’ dosa?

Jadi, saia kayak pedagang ya, gak mau rugi?

Bisa jadi, bisa jadi! *eat bulaga style* Kalau saia ikhlas dan bahagia saat membahagiakan orang lain, insya Allah ada nilai ibadahnya dong? Dapet pahala, kan? Hidup itu singkat masbro, mbaksis… Kapan lagi mau ngumpulin pahala? *tsaaaaaah* Gitu aja sih saia mikirnya. Btw jangan salah, setiap pedagang memang gak mau rugi, tapi ada kalanya dia harus rugi, untuk mendapatkan untung besar di kemudian hari, betul tidakkk? 😉

Image

Pinjam dari sini: http://bit.ly/1cQ61o9

Kini, bagi saia yang lebih penting adalah gimana saia bisa bermanfaat untuk orang lain. Misalnya, dengan berbagi, salah satunya dengan bersedekah. Orang lain merasakan manfaatnya, saia pun mendapat pahala. Insya Allah, Allah memudahkan urusan-urusan saia. Atau dengan tindakan-tindakan lain yang juga tak kalah manfaat dan pahalanya.

Dan bukankah hadits Rasulullah (riwayat Thabrani & Daruquthni) menyebutkan bahwa, “… Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia”? 😉

Bikin Liburan Anda Beda!

Sedikit ‘tertampar’ dengan chirpstory-nya pak Jamil Azzaini di sini, akhirnya saia memutuskan untuk semakin rajin nge-blog, biar gak jadi rumah hantu nih blog, hehe..

Dan bener juga sih, postingan blog sebaiknya gak terlalu panjang. Bahkan di chirpstory tersebut ditulis, “Satu alinea sekitar 3 kalimat, kog pendek? Memang dunia online beda dgn offline #TipsMenulisBlog.” Saia juga sebenernya males sih baca blog yang terlalu panjang.

Khususnya dunia kuliahlah yang ‘menyetel’ pola pikir saia, bahwa tulisan akademik yang panjang seolah menunjukkan bahwa penulisnya tampak ‘smart,’ tapi mungkin tergantung siapa yang nulis ya.. Tulisan yang panjang tapi argumennya gak mengena dan banyak pengulangannya juga sama aja bohong.

So, here is my post, setelah sekian lama absen, semoga gak terlalu panjang ya 🙂

Masa-masa libur Lebaran kemarin Jogja ramai sekali. Orang berlomba-lomba membuat itinerary liburannya seseru mungkin, terutama dengan memilih tempat-tempat yang belum banyak publikasinya di media. Kebayang dong, misalnya semua orang yang berlibur itu menuju Pantai Indrayanti, apa bedanya sama ‘cendol’ dong tuh pantai?

Dengan kata lain, orang berlomba-lomba mencari dan menciptakan liburan yang seru di tempat yang sesepi mungkin, karena jenuh dengan keramaian kota. Tapi, hey, mayoritas mereka pasti eksis di jagat maya kan? Punya akun twitter, facebook, instagram, whatsapp, line, dan kawan-kawannya yang aktif diperbarui dong? Masih yakin harapan seperti itu bisa secara harfiah terpenuhi seutuhnya?

Apalagi, sekarang internet bukan barang mahal. Kalaupun sedang bokek, bisa numpang wi-fian di kafe, perpustakaan, atau di mana pun yang menyediakan fasilitas wi-fi. Lalu, ‘konsultasi intensif’ dengan mbah Google. Orang pun biasanya bangga bisa menemukan tempat yang jarang pengunjungnya.

Saia paham betapa gak nyamannya berlibur di tempat yang terlalu ramai. Betapa tenang dan hening bisa merasuk sampai ke kalbu saat tiba di pantai yang sepi, misalnya. Tapi realistis sajalah, kalo memang lagi musim durian, masa’ iya berharap ada mangga? Ngerti dong ya maksud saia 😉

Atau, berstrategilah sedikit.

Saia punya teman yang ‘niat’ banget mengejar kesunyian di Pantai Siung, Gunungkidul, Jogja, dengan berangkat tepat habis sholat Subuh. Padahal, rumahnya di Jogja, di kotanya. Karena masih pagi banget, jalanan juga masih sepi. Normalnya kota Jogja – Gunungkidul ditempuh dalam waktu 2 jam (keramaian lalu lintas biasa aja, bukan musim liburan), katanya waktu itu ia tiba di GK tidak sampai 2 jam. Bahkan petugas retribusi (tiket masuk) pun belum ada, ia hanya diminta bayar parkir.

Gak ada salahnya Anda meniru strategi di atas. Memilih waktu sore hari untuk melihat sunset juga bisa, tapi perlu diingat juga bahwa melihat sunset adalah salah satu kegiatan mainstream yang dilakukan orang yang mengunjungi pantai. Dengan kata lain, pikirkanlah kegiatan liburan yang non-mainstream.

Atau, Anda bisa menginap di sekitar tempat wisata yang sudah Anda incar sejak lama. Misalnya, di Gunung Api Purba Nglanggeran, Gunungkidul, yang memiliki fasilitas homestay (info terbaru klik di sini). Dengan menginap di homestay, Anda mendapatkan dobel manfaat: berbagi rezeki dengan penduduk di sana, tapi juga berkenalan dengan kehidupan masyarakat di sana.

No pain, no gain, mbaksis & masbro. Jaman sekarang, menciptakan liburan yang bisa recharge semangat Anda untuk kembali bekerja juga perlu ikhtiar. Anda sudah jauh-jauh datang dari kota rantauan Anda dan kembali ke kampung halaman, Anda hanya perlu berikhtiar sedikit lagi agar liburan Anda semakin seru :mrgreen: